Minggu, 13 April 2025


Lama Tidak Bertemu, Blog

 

Ketika saya membuka laptop dan mencoba masuk ke blog saya ini, ternyata sudah kurang lebih enam tahun saya tidak menulis di blog ini, ya, terakhir saya menulis di bulan Agustus 2019. Bukan karena saya tidak ada cerita untuk ditulis, tapi lebih tepatnya karena tidak ada waktu untuk menulis. 

Pada tahun 2020 saya mendapat kepercayaan dari kantor, hingga kemudian saya pada akhirnya 2022 disekolahkan kembali oleh kantor saya.  Kemudian 2023 saya mendapatkan tugas kembali ke tempat pertama saya ditugaskan, jauh, di ujung timur Indonesia. Tapi tidak apa-apa, kembali di tempat tugas itu seperti pulang ke kampung halaman. Saya segera mencari kawan-kawan saya di tahun 2007-2010 dulu, beberapa masih ada, beberapa lagi sudah pindah dari sana. Saya yakin anda bertanya-tanya, di mana saya ditugaskan? Ya betul, saya ditugaskan di Jayapura. Foto pada blog ini merupakan foto yang saya ambil di sana pada tahun 2008. 

Kembali saya menekuni hobi diving saya di sana. Indonesia timur tekenal dengan pesona bawah lautnya yang menawan. Di sana saya juga sempat untuk meningkatkan kualifikasi diving saya dari one star diver menjadi two star diver. Hampir setiap minggu saya diving, lokasinya di Dok IV atau di sekitar Depapre. Saya juga sempat diving di Raja Ampat, di Arborek. Arborek merupakan dermaga kapal, di bawahnya menyajikan pemandangan laut yang eksotis, jauh dari kesan dermaga kapal yang kotor dan kumuh. Banyak ikan dengan berbagai jenis berbaris rapi, mereka tampak tenang dan bahagia berenang di sana. Kami sebagai turis dilarang untuk terjun ke laut dari dermaga ataupun dari kapal, kami harus turun ke laut dengan tenang, itu agar ikan-ikan di sana tidak stres. Itulah mengapa di sana ikan tampak hidup tidak stres. 

Pada tahun 2024 awal saya kembali dari Jayapura unutk ditugaskan kantor di Pulau Jawa. Hingga kini saya masih berada di tempat tugas yang sama, entah untuk sampai kapan? Jalani, nikmati, syukuri.....

Rabu, 21 Agustus 2019

Sang Montir

Sebagai penyuka mobil tua, saya sering sekali berurusan dengan montir. Bahkan boleh dibilang kalau mobil tua saya sering keluar masuk bengkel. Saya mempunyai sebuah landrover seri 2A tahun 1970. Saya hitung sudah lebih dari 6 montir/bengkel yang memegang mobil saya. Ada yang sudah tua sekali, tapi ada juga yang masih anak muda. Ada yang nakalan dan ada juga yang baik. Nakalan di sini maksudnya adalah suka memanipulasi data, spare yang baik dilaporkan rusak, harga di naikkan dari harga sebelumnya, bilangnya spare diganti baru padahal hanya di servis saja.

Tapi, ada satu yang saya amati. Ketika mobil saya berpindah rawatan, dari satu montir ke montir lain, ada sesuatu yang menunjukkan kepribadian dari setiap montir. Ya, montir-montir itu ada yang berkeluh kesah atas pekerjaan montir sebelumnya, dan ada juga yang hanya diam, menganalisis kerusakan, mencoba melakukan perbaikan tanpa menggerutu pekerjaan yang "kurang beres" dari montir sebelumnya. Jujur, saya kagum dengan pribadi yang kedua ini. Saya tahu bahwa lebih sulit kalau kita memperbaiki kerusakan yang merupakan kesalahan pekerjaan sebelumnya, tapi dia hanya diam tanpa menyalahkan montir sebelumnya. Biasanya pekerjaan montir yang tidak suka berkeluh kesah ini lebih baik daripada pekerjaan montir yang suka berkeluh kesah.

Sama saja sih dengan pekerjaan lain, pada intinya kalau suatu pekerjaan dilakukan dengan ikhlas niscaya hasilnya juga akan baik. Makanya sering kita temui jargon kerja cerdas, kerja tuntas, kerja ikhlas.. Sudahkan kita melakukan pekerjaan kita masing-masing dengan ikhlas?





Senin, 29 April 2019

Share pengalaman baby Rex.


Anak saya yang nomor tiga, Rex, sakit. Saya dan istri membawanya ke rumah Sakit tempat di mana dia lahir. Sebenarnya jarak RS itu dengan rumah kami lumayan jauh, tapi karena RS itu pernah menjadi RSIA (Rumah Sakit Ibu dan Anak), maka kami lebih nyaman kalau dibawa ke sana.

Rex sakit batuk dan pilek, lumayan parah batuk dan pileknya, sampai2 dia akhirnya demam tinggi. Diagnosa dari dokter, ada infeksi pada saluran pernafasannya, itulah pemicu demamnya. Setelah di uap, ternyata juga tidak membawa perubahan besar, nafasnya masih seperti terganggu lendir. Dokter memutuskan kalau Rex harus rawat inap.

Saya dan istri tidak masalah kalau Rex harus rawat inap, hanya saja saya tidak tega kalau anak kami yang masih berusia 7 bulan harus di infus. Benar saja, ternyata tidak bisa hanya sekali Rex dipasangi jarum infus, sekali dicoba di ruang transit ketika akan masuk kamar, setelah itu dua kali di ruang IGD, percobaan keempat di lakukan oleh yang katanya ahli, tapi tetap saja gagal. Saya tidak tega anak saya menangis meraung-raung.

Esok paginya, dokter melakukan visit. Dia dengan "pede" bilang kalau keputusannya tepat, karena dengan infus pasti anak akan lebih cepat segar. Lalu saya tunjukkan kepadanya bahwa anak saya belum diinfus. Dengan malu bercampur emosi, dokter itu lalu marah-marah kepada suster yang melaksanakan jaga pada waktu itu. Akhirnya dokter menanyakan kepada saya, untuk dicoba lagi oleh perawat di NICU, konon katanya perawat di sana ahlinya ahli untuk memasangkan infus. Dan syukurlah percobaan itu langsung berhasil.


Setelah berhasil di pasang infus, Suster pasang alat yang bisa mendeteksi kalau cairan infus tersumbat, maka si alat tersebut akan berbunyi. Karena indikatornya hanya itu, maka setiap kali berbunyi, saya tekan bel utk panggil suster, dan Suster pun datang.

Setelah 4 Jam pemasangan infus, baby Rex menangis terus menerus, bahkan hampir 3 Jam dia rewel. Awalnya kami kira dia lapar, tetapi disuapi tidak mau, kami kira dia haus, diberi minum juga tidak mau. Digendong pun masih menangis. Dari tangisannya kami tau dia kesakitan.

Akhirnya saya lihat kok tangannya besar sebelah. Tangan baby Rex yang dipasang infus jadi besar seperti tangan Popeye, dipegang pun sudah keras sekali, seperti balon yg terisi udara full. Itu karena cairan infus tidak masuk ke dalam pembuluh darah melainkan masuk ke jaringan tangan.

Segera saya panggil Suster, dan kami minta supaya dicopot alat infusnya, dan baby Rex tidak saya ijinkan utk dipasang infus lagi, semua obat harus obat minum (bukan injeksi)!!

Masa iya niat berobat kok malah nambah sakit, habislah dokter jaga sama Suster jaga di situ kena omelan kami. Dan sampai 3 jam setelah omelan kami, tangan baby Rex masih dikompres tangannya oleh suster-suster jaga secara bergantian.


Kami kecewa betul dengan pelayanan RS ini, semenjak menjadi RSU, RS ini menjadi menurun kualitasnya. Padahal tidak murah biaya yang setiap pasien keluarkan untuk bisa sehat kemabali. Perlu kami sampaikan bahwa kelas kami di VVIP, nah kalau pelayanan di VVIP saja seperti ini, bagaimana dengan pelayanan di kamar di bawah kelas tersebut. Mengapa pos standby Suster yang hanya berjarak 8 meter dari kamar kami tidak mau mengecek pasien setiap dua jam sekali? Mereka justru meminta keluarga pasien yang mengawasi infus tersebut. Mengecewakan!!

Sebagus dan secanggih apapun alat, anak kita itu adalah alarmnya”, bukan hanya alarm yg dipasang di alat infus itu. Saya menyesal baru mengetahui kesakitan anak saya setelah tiga jam.

Semoga kita selalu diberi kesehatan..amin

Minggu, 10 Maret 2019


"Terimakasih, nanti Tuhan yang membalas ya..."


Dari sejak kecil saya sudah diajarkan oleh orang tua untuk selalu mengucapkan terimakasih setelah menerima pemberian dari orang lain, baik itu pemberian yang wujudnya barang ataupun pemberian yang berwujud pertolongan dari orang lain.

Orang tua saya juga mengajarkan untuk melupakan setiap pemberian yang pernah saya berikan untuk orang lain, sebaliknya saya harus mengingat setiap pemberian yang saya terima dari orang lain. Maka dari itu, saya selalu berupaya membalas setiap kebaikan yang pernah saya terima. 

Saya terus terang kurang simpati dengan apa yang sering orang katakan setelah menerima pemberian, "terimakasih, nanti Tuhan yang membalas ya". Lho.. siapa yang menerima pemberian, kok Tuhan yang disuruh membalas? Kecuali memang kalau kita memberi bantuan kepada anak yatim piatu, korban bencana alam, orang yang tidak punya jabatan dan harta sedikitpun. Tapi manakala orang yang menerima bantuan itu adalah orang yang punya jabatan atau harta, apakah betul ia tidak bisa membantu suatu saat kelak kalau orang yang saat ini memberikan pertolongan gentian membutuhkan pertolongan? 

Maksud saya dari tulisan ini adalah untuk mengingatkan saya sendiri dan juga anda, supaya membalas setiap kebaikan orang lain dengan cara apapun itu, kalaupun kita tidak melakukan kebaikan kepada orang yang pernah menolong kita karena mereka memang tidak pernah meminta pertolongan dari kita, maka lakukanlah kebaikan kepada orang lain yang memang memerlukannya. Saya jadi ingat film "Pay it Forward". 

Selamat berbuat baik. 

Rabu, 31 Januari 2018

Pesona Belitong

Awal tahun 2018, saya mengajak keluarga saya berlibur di Belitung. Tidak ada sanak famili di sana, hanya saja pernah tahun 2016 saya ke sana untuk dinas, dan jujur saja saya amat terkesan dengan Belitung, maka dari itu saya ingin mengajak keluarga saya berlibur ke Belitung.

Dengan tiket pesawat yang cukup terjangkau (RP.350.000,-/pax), kami bertolak ke Belitung melalui Bandara Soekarno Hatta. Setibanya di sana, saya cukup heran, karena saya mendapat chat WA dari pemilik rental mobil di sana, bahwa kendaraan yang saya pesan sudah ready di bandara dengan kunci berada di ban depan sebelah kanan. Kesan awal yang masuk di benak kami, Belitung ini aman!

Untuk mengisi bensin kendaraan, di Belitung agak sulit jika mengandalkan SPBU, pemandangan jerigen berjejer sudah kami temui sepanjang jalan dari bandara sampai dengan pusat kota. Setelah menikmati makan siang di daerah kota, segera mobil kuarahkan ke daerah Sijuk. Sijuk merupakan daerah yang jaraknya 30 km dari pusat kota. Anda bisa menikmati kondisi jalan yang mulus dan lebar, tanpa macet!

Ada berbagai macam tipe hotel yang ditawakan di Belitung, anda bisa memilih tipe seperti apa yang Anda inginkan. Saya ingin hotel yang punya akses berenang ke laut langsung, maka saya memilih di daerah Sijuk. Ada beberapa pantai di daerah Sijuk, dua yang paling terkenal adalah Pantai Tanjung Kelayang dan Pantai Tanjung Tinggi. 

Jika Anda sudah puas bermain di Pantai di sekitaran Sijuk, Anda bisa mencoba menyeberang ke Pulau Lengkuas dengan hanya membayar sewa kapal sebesar Rp. 450.000,- untuk seharian, sepuasnya Anda. Di Pulau Lengkuas, Anda dapat melihat mercusuar peninggalan jaman penjajahan. Dalam perjalanan ke Pulau Lengkuas, nanti Anda akan diajak berkeliling ke Pulau Pasir (Pulau ini hanya muncul beberapa jam karena pasang dan surutnya air laut), Pulau Kelayang (Pulau dengan goa yang terhubung ke laut), Anda juga diajak untuk melihat batu Garuda, Batu Berlayar, dan lain sebagainya.
Tidak usah ditanya bagaimana perihal kebersihan pantai di Belitung, penghargaan bagi pemerintah dan juga masyarakat Belitung untuk menjaga kebersihan pantai.

Untuk makanan di daerah ini, sudah pasti seafood lah yang menjadi favorit. Ikan, udang, dan cumi yang segar dapat anda nikmati di restoran mewah maupun di warung-warung rumahan. Keramahan penduduk juga membuat anda merasa nyaman berlibur di Belitung.

So,, ga usah jauh-jauh liburan ke luar negeri, di dalam negeri ada Belitung yang wajib anda kunjungi, terutama para penikmat pantai...

 


Minggu, 14 Agustus 2016

Memperpanjang Surat Kendaraan Bermotor di Samsat

Tanggal 31 Juli sampai dengan tanggal 2 Agustus 2016 lalu saya mendapatkan tugas untuk melaksanakan kegiatan survey dalam rangka Sail Karimata 2016 di Provinsi Kalimantan Barat. Ketika diantar oleh istri dan adik ipar ke bandara, saya berpesan agar nanti diurus pajak kendaraan bermotor (PKB) kendaraan roda dua yang kami miliki, karena jatuh temponya sudah dekat. 


Setelah saya kembali dari Kalimantan Barat, saya melihat bahwa memang PKB motor saya tersebut sudah dibayarkan. Akan tetapi saya lupa bahwa selain kendaraan roda dua, kendaraan roda rempat yang kami miliki juga ternyata sudah saatnya dibayarkan pajaknya. Bahkan jatuh temponya lebih cepat yang roda empat ketimbang yang roda dua. Rasanya menyesal sekali, karena kemarin adik ipar sudah ke Samsat, tetapi tidak sekalian mengurus PKB mobil. huuffft....kesalahan ada padaku, mana ada denda lagi!!

Akhirnya hari Sabtu kemarin aku mempunyai waktu untuk mengurus masalah pajak ini. Bimbang, apakah akan mengurus sendiri atau meminta bantuan biro jasa untuk mengurusnya. Istriku tidak setuju jika menggunakan biro jasa, "sayang uangnya untuk membayar biro jasa", katanya, lebih baik dirinya yang akan mengurus, ia khawatir jika antrian panjang dan akan memakan waktu yang lama, sehingga waktuku bersama keluarga di hari Sabtu akan terpakai habis unutk mengurus PKB. Akan tetapi sudah kuputuskan tekad bahwa aku yang akan mengurusnya sendiri hari Sabtu ini. 

Setelah selesai memfoto kopi segala berkas-berkas yang akan digunakan untuk memperpanjang surat-surat kendaraan bermotor (KTP, STNK, BPKB), maka berangkatlah aku menuju gerai Samsat yang berada di dalam Tamini Square. Agak celingukan, karena baru pertama kali ini aku mengurus PKB sendiri, biasanya aku menggunakan biro jasa. Sudah kusiapkan mental mengantri, mental disuruh-suruh petugas yang arogan, mental berhadapan dengan sesama warga yang tidak sabaran yang juga sedang mengurus STNK di Samsat ini.

Akan tetapi begitu aku masuk gerai Samsat, hal lain yang kudapatkan. Petugas-petugasnya ramah, ketika aku bertanya pada warga yang kebetulan ada di sana pun, jawabannya mengenakkan hati, dan ternyata antriannya pun tidak seperti yang kutakutkan. Hanya dalam kurun waktu 25 menit segala urusan bisa selesai, Aku sudah memperbarui PKB ku, dan kegemberiaanku bertambah karena ternyata tidak ada denda atas keterlambatanku, padahal kalau baca-baca di internet, seharusnya keterlambatan 2 hari saja sudah dikenakan denda. Entahlah, mungkin ada kaitannya dengan Tax Amnesty, sehingga warga negara yang memiliki kendaraan yang sudah lama tidak dibayarkan pajaknya, mau untuk kemudian membayar pajak.

Ah.. sungguh, pengalaman pertama membayar sendiri pajak kendaraan yang menyenangkan.
Terimakasih Bapak Ibu petugas Samsat...  

Kamis, 09 Juni 2016

Hasrat Menulis

Menulis bagi sebagian orang merupakan hal yang mudah dilakukan, akan tetapi bagi sebagian lain menjadi hal yang amat sulit dilakukan. Padahal dengan menulis, seseorang dapat menumpahkan segala pemikirannya, dapat menyampaikan ide-idenya, bahkan dapat mempengaruhi orang lain dengan tulisannya, namun memang jika menulis tidak dibiasakan, maka apa yang akan disampaikan, belum tentu sesuai dengan keinginan si penulis.

Tulisan sesorang, baik isi maupun gayanya dapat dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor, antara lain : tingkat pendidikan penulis, latar belakang sosial penulis, dan juga bacaan yang dibacanya selama ini. Saya akan mencotohkan untuk poin yang terakhir, jika seseorang yang hobi membaca koran, maka gaya penulisannya pun akan seperti halnya tulisan di media cetak, tentu gaya penulisan di media cetak tidak akan sesuai jika digunakan dalam penulisan yang sifatnya akademis, maka seorang penulis artikel di surat kabar harus berhati-hati jika akan menulis di segmen yang berbeda. Mengapa saya dapat berkata demikian? karena saya adalah orang yang hobi membaca koran, kebetulan juga beberapa tahun lalu saya menjadi mahasiswa pascasarjana di sebuah universitas, dalam artikel akademis saya, saya menuliskan kata "anjlok" yang sering sekali kita temukan di media cetak untuk membahas harga ataupun kereta api. Setelah dosen pembimbing saya menunjukkan bahwa kata tersebut harusnya ditulis "turun drastis" untuk membahas harga, atau kalau untuk pembahasan kereta api semestinya ditulis "keluar dari rel". 

Banyak sarana untuk berlatih menulis, jika ingin mengembangkan bakat menulis akademis, tersedia jurnal-jurnal akademis yang memang menanti kreatifitas akademis para akademisi, jika ingin menulis hal-hal terkait situasi terkini, ada media surat kabar dengan rubrik "Opini" maupun rubrik "Surat Pembaca", selain itu ada juga Blog seperti yang sedang anda baca ini, Jujur saja bagi diri saya, saya berlatih menulis di sini :) 

Selamat menulis.

Jumat, 03 April 2015

Ada yang menarik ketika saya mengikuti Misa malam Kamis Putih di gereja St. Catharina, TMII. Waktu itu misa dipimpin oleh Romo Paroki, Yustinus Ardianto,PR. Dalam khotbah singkat namun mengena yang disampaikan oleh Romo Yus, ada 4 makna dari peringatan Kamis Putih.

Pertama, Kamis Putih merupakan awal mula terjadinya ekaristi. Pada malam terakhir sebelum Yesus wafat, ia melakukan perjamuan terakhir, Ia memecah roti dan menuangkan anggur dalam cawan, Yesus berpesan "lakukanlah ini akan peringatan kepadaKu".  Hingga kini ekaristi dilakukan setiap hari Minggu ataupun hari raya umat Katolik. 

Kedua, Kamis Putih merupakan lahirnya hukum yang baru, yakni hukum saling mengasihi dan melayani. Yesus membasuh kaki para murid, Ia ingin menunjukkan bahwa meskipun ia guru/rabbi, Ia tak sungkan untuk melakukan sesuatu hal yang pada waktu itu dianggap sebagai tindakan rendahan. Yesus mengungkapkan bahwa hendaklah kalian hidup dalam Iman, Harapan, dan Kasih. Dan di antara ketiganya, Kasih lah yang diutamakan.

Ketiga, Malam Kamis Putih merupakan malam terakhir Yesus hidup di dunia, Ia berkumpul bersama muridNya, melakukan perjamuan terakhir, berpesan kepada murid-muridNya agar meneruskan apa yang sudah mereka lakuka selama ini bersama Yesus. Sebagai manusia biasa, tentu Yesus takut akan kematian, tapi Ia tetap percaya bahwa itu semua sudah menjadi takdir yang harus dilaluiNya.

Keempat, Malam Kamis Putih merupakan malam pengkhianatan. Yesus mengetahui bahwa Ia akan diserahkan oleh muridNya sendiri, yakni Yudas Iskariot. Selain Yudas, Petrus pun ikut mengkhianati Yesus dengan menyangkalNya sebanyak tiga kali. Dikhianati oleh orang yang dekat dengan kita tentu amatlah menyakitkan, dan Yesus mengalami hal tersebut pada malam ketika Ia diserahkan kepada Imam Kepala.

Begitu pentingnya makna Kamis Putih, maka amatlah berdosa ketika kita tidak memperingatinya, kita biarkan Yesus sendirian dalam kesedihan dan ketakutan. Untuk itu, hadirlah dalam Misa Malam Kamis Putih dan juga Tuguran.  Tuhan memberkati...

Rabu, 21 Januari 2015

Nasib Mobil Tua

Mendengar wacana yang digulirkan oleh pemerintah DKI Jakarta, bahwa dalam rangka mengurangi angka kemacetan di jalanan Ibukota, maka pemerintah daerah akan mengurangi jumlah kendaraan dengan usia di atas 10 tahun. Mungkin Pemda DKI mencontoh kebijakan yang diberlakukan di Singapura, di mana memang di Singapura, mobil yang usianya di atas 10 tahun, tidak diperbolehkan lagi berada di negeri tersebut. 

Banyak polemik yang muncul terkait wacana tersebut, yang paling akan merasakan dampaknya adalah masyarakat pemilik kendaraan yang usianya di atas 10 tahun. Mereka yang memiliki kendaraan tersebut tentu dengan berbagai alasan, pertama, mereka ingin memperhatikan kualitas kendaraan, karena jujur saja, mobil di awal tahun 2000 memiliki kualitas mesin dan eksterior bahan yang lebih baik dari mobil jaman sekarang, di mana mobil jaman sekarang karena ingin mengejar image "mobil murah", maka kualitas diturunkan oleh para produsen mobil tersebut. Kedua, disamping kualitasnya baik, karena pengaruh penyusutan nilai, mobil yang umurnya lebih dari 10 tahun ini relatif lebih bersahabat dengan kondisi saku masyarakat yang ingin memiliki kendaraan namun tidak ingin terjebak dalam urusan kredit kendaraan bermotor. Ketiga, bagi mereka yang paham akan nilai penyusutan kendaraan, mobil yang dibeli di tahun 2000 an akan mengalami nilai penyusutan yang nilainya lebih kecil dibandingkan jika membeli mobil baru dari dealer/agen, hal itu dikarenakan nilai penyusutan mobil tahun 2000 an sudah mendekati batas bawah, bahkan cenderung habis penyusutannya. Sebagai contoh, (dengan catatan kondisi mobil baik) di tahun 2012 anda membeli mobil baru merk Ford Everest tahun 2013 seharga 350 juta, kemudian anda ingin menjual mobil tersebut di tahun 2014, penyusutan yang akan anda rasakan cukup besar, karena harga mobil bekas merk Everest tahun 2012 seharga 250 s.d 280 juta, lain hal nya jika di tahun 2012 anda membeli mobil Ford Everest tahun 2004 seharga 160 juta, ketika anda ingin menjualnya di tahun 2014, harganya masih sekitar 140 juta, dari sana kita bisa tahu bahwa membeli mobil baru cenderung lebih rugi daripada membeli mobil second.

Untuk menjalankan niatan Pemda DKI tersebut, maka Pemda juga harus memikirkan bagaimana nasib mobil tua dan pemiliknya ini. Secara otomatis mobil tua tidak akan ada yang mau membeli, lalu mau dikemanakan mobil-mobil ini?  Apakah Pemda mampu mengganti rugi ? Kalau memang bisa, silahkan saja jika mau diperlakukan sama seperti pada saat peniadaan angkutan becak di Ibukota beberapa waktu lalu, di mana becak-becak tersebut dibeli kemudian ditenggelamkan di dasar laut untuk dijadikan rumpon ikan.

Lain lagi halnya dengan komunitas pemilik mobil tua seperti halnya willys, land rover, vw kodok, dll, mereka yang memiliki hobi mengoleksi dan mengendarai mobil tua, terancam akan kehilangan kesenangannya. Mereka yang selama ini dalam komunitas ikut bergerak dalam kegiatan-kegiatan positif, seperti : baksos, pertolongan pada korban bencana, akan kehilangan komunitasnya, dan tentunya pemerintah sendiri yang akan rugi karena ketidakadaan mereka. Sedikit ataupun banyak, peranan mereka tentu sangat berarti bagi kemanusiaan.

Jika memang yakin akan diberlakukan dan tidak ada kebijakan yang meringankan pemilik mobil tua, maka pihak yang akan merasakan dampak adalah Pemda lain, mereka akan menerima "buangan" mobil-mobil tua dari Jakarta. Tentu saja ini akan menambah kemacetan dan polusi di daerah lain. 

Masih banyak yang perlu dipikirkan untuk menetapkan kebijakan ini, apakah iya dengan membuang mobil tua maka Jakarta tidak akan macet lagi? Padahal pada kenyataannya justru mobil-mobil baru yang marak menghiasi jalanan Ibukota..


Sabtu, 29 November 2014

olahraga yang dipaksakan ternyata justru tidak baik bagi tubuh

Ceritanya berawal ketika jam olahraga di hari Jumat tanggal 28 November lalu, entah mengapa aku seperti merasa kuat. Setelah melahap lari rute pendek (2 kilometer) secara berkelompok, aku kemudian jalan mengelilingi shuttle ban di stadion sebanyak 4 keliling bersama rekan kerjaku.

Ketika bertemu rekan kerjaku yang lain, yang usianya relatif lebih muda dari rekan kerjaku yang pertama, aku pun segera mengajaknya berlari, kali ini tidak tanggung-tanggung kami berlari rute jauh (5 kilometer). Setelah berlari dengan total jarak 7 kilometer, aku menuju tiang pull up untuk melaksanakan pull up. Entah dirasuki kekuatan apa, aku melaksanakan pull up beberapa kali dan kulakukan beberapa set. Total sekira 25 pull up yang kulakukan.

Hari jumat itu pun berjalan biasa saja, cenderung aku merasa fit, setelah sekian lama tidak berolahraga karena kesibukan. Akan tetapi rasa sakit luar biasa kurasakan pada hari Sabtunya, lengan atas sebelah kiri, dada kiri, dan pundak kiriku luar biasa sakit, sampai-sampai mengganggu pernafasanku, aku tidak bisa bernafas lega karena jika aku menarik nafas agak dalam, dada kiriku terasa nyeri. Ini membuatku merasa tidak nyaman, hingga pada akhirnya kubuat badanku beristirahat siang. Cukup lama aku tidur siang, kurang lrbih sekira 4 jam, dan setelah bangun kurasakan tubuhku melemas dan terasa demam. Langsung saja istriku yang cekatan segera menganbil termometer, mengukur suhu tubuhku, dan didapatinya suhu tubuhku 38,6 derajat Celcius. Segera dibuatkannya aku mie jawa bakso dan meminum obat, ketika aku bangun, Puji Tuhan sudah kembali sehat badanku, tinggal pemulihan otot-otot dada, pundak dan lengan kiri yang masih terasa lemas dan linu.  

Untuk sobat lain yang mau melaksakan olahraga, lebih menperhatikan pemanasan yaa... smg kita semua selalu dikaruniai kesehatan yang sempurna.  

Selasa, 21 Oktober 2014

Politisasi Jabatan Militer

Setiap manusia sejatinya adalah insan politik. Dalam hubungannya dengan lingkungan dan juga masyarakat sekitar, manusia pasti berpolitik. Sikap politik ini berbeda-beda, tapi yang pasti semua demi satu tujuan.
Lalu bagaimana dengan militer?
Demikian juga prajurit-prajurit TNI. Dari pangkat tertinggi hingga pangkat terendah, kami semua adalah manusia biasa yang terlatih, karena hanya manusia biasa akhirnya kami pun berpolitik. Politik dalam hal ini tolong jangan dikatikan dengan partai, tapi lebih pada stategi untuk mencapai tujuan. 
Untuk urusan terkait dengan politik kenegaraan, TNI mengambil sikap untuk netral. Sikap TNI ini diapresiasi baik oleh kalangan tokoh maupun masyarakat, baik dalam negeri maupun luar negeri. Sebagai alat negara, sungguh tidak elok jika TNI digunakan oleh pihak-pihak yang sedang berebut kekuasaan. 
Netralitas TNI ini sudah teruji baik dalam pemilu legislatif maupun pemilu presiden yang diselenggarakan dalam tahun 2014. Tidak hanya sekarang, netralitas ini juga sudah ditunjukkan TNI dalam pemilu-pemilu sebelumnya.

Akan tetapi, ada keunikan yang cukup menggelitik, manakala akan berakhirnya rezim SBY untuk kemudian digantikan oleh era Jokowi, ada semacam upaya "balas jasa" SBY terhadap para pejabat-pejabat militer terdekatnya. Dan sebaliknya, ada upaya "penyingkiran" pejabat-pejabat yang dekat dengan SBY tersebut pada era memasuki kepemimpinan Jokowi. Ini bisa terlihat dari pengangkatan Danpaspampres. 

Sungguh sayang jika harus terjadi demikian, TNI yang netral pada akhirnya akan terbawa dalam arus politik praktis yang berkembang, lalu bagaimana jika masing-masing pejabat tinggi militer tersebut menggunakan pasukannya masing-masing untuk "bertarung" demi sebuah jabatan yang memang sudah dipolitisir.. Ah, semoga TNI tetap netral..  

Kamis, 25 September 2014

"Gaya Katak" dalam Dunia Kerja

Ada seorang pejabat baru di lingkungan tempatku bekerja. Kebetulan jabatannya cukup strategis, namun ia bukanlah orang yang menjadi pucuk pimpinan, semacam berada di level supervisor begitulah. Baru pertama kali bertemu pun, jujur saja, aku tidak terlalu simpatik, rasa-rasanya bapak satu ini pribadi yang kurang menyenangkan.

Hari demi hari berlalu, mungkin saja ia sudah mulai "merasa nyaman" dengan kursi barunya. Di periksalah segala arsip-arsip pekerjaan sebelumnya, seolah-olah ia seperti paling mengerti dan paling menguasai pekerjaanku ini, mulailah ia mengernyitkan dahi, memijat-mijat keningnya, seakan-akan ia benar-benar pusing dan suntuk dengan jabatan baru yang diembannya. Tetapi ternyata, hal yang dilakukannya itu hanyalah akal piciknya saja untuk mencari informasi sedalam-dalamnya, yah.. apalagi kalau bukan untuk kepentingan pribadinya, ia ingin perolehan pendapatan yang lebih besar.

Akal bulus akal licik dikeluarkannya terus, dipanggilnya aku tiap hari, bahkan sehari tak cukup hanya memanggilku sekali atau dua kali, bisa dipanggilnya tiga atau bahkan lima kali terkadang. Jujur saja, muak dan lelah aku jika harus berhadapan dengannya di ruangan yang hanya diisi kami berdua. Karena ketika di ruangan tersebut ada orang lain, akan manis-manis dan idealis bicaranya, tetapi jika sudah kami berdua, segala hal yang manis hanyalah jadi pemanis, bahasa kerennya sekarang adalah Pencitraan!...

Trik-trik yang penuh dengan keculasan pun ia mainkan, seperti gaya berenang "katak", demi tujuan yang ingin ia peroleh, tak segan-segan ia menendang dan menyapu orang-orang lain di sekitarnya, tetapi untuk urusan ke atas, ia tak segan-segan menyembah pimpinan, bahkan menjilat pantat pimpinan jika diperlukan. Jahat memang, terlebih yang membuatku semakin mengelus dada, ternyata ia sesungguhnya sudah mendengar bahwa karyawan-karyawan lain sudah mengetahui kelicikan dan kekikirannya, tetapi dengan nada sombong dan bodohnya ia menjawab :"ya kan tidak apa-apa, toh ini kan menjadi hak supervisor".. Oh My God, ada ternyata orang yang tidak memiliki malu seperti dia. "Saru pak,, saru banget, mbok yo insaf", spontan kami berujar.

Seperti hari ini, ketika perolehannya sudah berada di angka yang sangat tinggi, sudah meningkat 20 persen dari penerimaan yang sebelumnya, dengan gampangnya dia berkata, "saya ingin penerimaan selanjutnya lebih tinggi lagi". Astaga... kok sepertinya kurang terus rejeki yang ia terima, seakan-akan ia ingin memakan dunia seisinya, benar-benar pribadi yang rakus, serakah, kikir, bodoh, sekaligus tidak tahu diri. Bukannya bersyukur, ia malahan menggerutu ketika menerima rejeki yang begitu besarnya bukan main.

Silahkan saja diambil, silahkan saja dinikmati sendiri, atidak usah hiraukan kami yang hanyalah karyawan rendah ini, kami percaya bahwa kehidupan kelak akan memberikan pelajaran bagi anda...Semoga.

 

Selasa, 09 September 2014

Prinsip Ekonomi yang salah dimengerti...

Aneh tapi nyata, itulah yang mampu saya katakan ketika ada seseorang yang ingin berbisnis tetapi tidak ingin mengeluarkan pengorbanan sama sekali. Mengapa saya bisa berkata demikian? kira-kira begini ceritanya...

Kebetulan saya menjabat sebagai bendahara di salah satu instansi. Sebagai bendahara tentu tidak jauh-jauh dari urusan uang, karena mengelola keuangan adalah tugas pokok dari seorang bendahara. Karena judulnya tadi "mengelola keuangan", tidak heran banyak orang datang kepada saya untuk minta bantuan, biasanya mereka kasbon (menerima penghasilan di depan, sebelum waktunya penghasilan tersebut dibayarkan sesuai jadwal sebenarnya). Bermacam-macam tujuan orang kasbon, mulai dari karena kebutuhan yang benar-benar mendesak sampai pada kebutuhan yang sifatnya konsumtif belaka. Untuk tujuan yang terakhir ini, saya amat jarang merilis bantuan kasbon mereka. 

Kembali ke topik aneh tapi nyata tadi, dua hari terakhir ini secara berturut-turut ada pegawai yang menghadap ke saya, pegawai yang pertama menyampaikan kepada saya bahwa ia ditawari sebuah rumah oleh orang sedang butuh uang segera, karena ia belum punya rumah, maka ia sangat tertarik untuk membelinya, namun tabungannya tidak mencukupi, kemudian dia mencoba menanyakan apakah saya bisa membantunya, dengan catatan dia sanggup dipotong gaji selama sepuluh bulan berturut-turut. Saya jelas langsung menolak untuk membantunya, kemudian saya coba carikan solusi untuk dia, pertama, saya arahkan dia untuk meminjam dana di perbankan atau koperasi, saya sampaikan kalau meminjam uang di perbankan atau di lembaga koperasi untuk tujuan membeli rumah, hal tersebut amat sangat dimaklumi dan itu bukanlah kredit yang sifatnya konsumtif, namun jawabannya kepada saya adalah ia enggan membayar bunga, dia sampaikan kalau lebih baik dana untuk membayar bunga tersebut digunakan untuk membeli sebuah telepon genggam baru. Solusi kedua saya adalah untuk menjual aset yang dimilikinya, dan betapa terkejutnya saya ternyata ia memiliki mobil untuk berangkat kerja ke kantor, saya pun memintanya untuk dijual guna mencukupi biaya pembelian rumah yang ia inginkan. Atas solusi kedua saya ini, ia pun menjawab bahwa ia membutuhkan mobil untuk berangkat ke kantor, karena tanpa mobil maka ia akan merasa lelah karena harus berpindah-pindah angkot, dan karena kelelahan di jalan dikhawatikan hasil dari pekerjaannya tidak akan maksimal. 

Saya mulai tidak simpati dengan pegawai ini, karena menurut saya untuk mencapai tujuannya ia tidak mau mengorbankan sama sekali, baik uang untuk membayar bunga pinjaman maupun mengorbankan kenyamanannya demi sebuah rumah impian. Obrolan pun terus berlanjut, walaupun menurut saya obrolan itu sudah tidak berguna, hanya membuang waktu saya saja, hingga pada akhirnya entah keceplosan atau memang ia berupaya jujur bahwa niat akhir dari membeli rumah yang ditawarkan kepadanya adalah untuk dijual lagi, oh my God...pegawai ini memang benar-benar kikir dan culas pikir saya, kalaupun ia berniat beli-jual rumah untuk bisnis, seharusnya tidak menjadi masalah jika harus membayar bunga pinjaman, karena saya yakin keuntungan dari penjualan rumah itu akan mampu menutupi biaya bunga pinjaman, masih bisa untuk membeli sebuah telepon genggam yang diinginkannya, malahan pula masih bisa untuk ditabung untuk digunakan sebagai modal beli-jual rumah selanjutnya.. Dan obrolan tak berguna itu pun berakhir.

Keesokan harinya, ada lagi pegawai yang menemui saya untuk meminjam dana "murah", ya, saya katakan dana murah karena dengan kasbon ataupun meminjam kepada saya, maka mereka tidak perlu membayar bunga. Kali ini ada pegawai yang ingin berbisnis hewan kurban. Pola permainan dan kecenderungan watak pegawai ini kurang lebih saja dengan pegawai pertama yang ingin beli-jual rumah tadi. Karena saya sedang sibuk, saya langsung to the point, maaf saya tidak bisa, karena kas yang ada di bendahara tidak mencukupi. Selesai perkara. 

Dari dua peristiwa yang saya ceritakan di atas, saya ingin tegaskan bahwa memang betul bahwa berbisnis sah-sah saja manakala bisnis itu adalah bisnis yang tidak melanggar undang-undang, melakukan bisnis dengan menerapkan prinsip ekonomi pun sah-sah saja, malahan kalau menurut saya itu perlu, tetapi jangan ditelaah secara dangkal, dalam prinsip ekonomi diperoleh pengertian upaya untuk meningkatkan kesejahteraan melalui perolehan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya, camkan sekecil-kecilnya!, bukannya tanpa pengorbanan sama sekali. Konyol memang tapi itulah yang saya temui dua hari terakhir ini..... 

 


Senin, 28 Juli 2014

Yang Aneh Pada Bailout untuk Bank Century

Perseteruan tentang kasus Bank Century tak kunjung selesai. Sudah banyak pejabat negara yang dipanggil untuk diselidiki oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), terutama pejabat negara yang terkait dengan keuangan negara Republik Indonesia di era tahun 2008-2009. Gubernur Bank Indonesia yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia dan juga Menteri Keuangan di tahun itu yang kini menjadi salah satu Manager di International Monetary Fund (IMF) juga tak luput dari panggilan KPK.

Penulis mencoba mengikuti kasus ini, banyak yang dipanggil untuk memberikan kesaksian, tetapi belum jelas siapa tersangkanya. Hingga pada akhirnya, ditetapkanlah oleh KPK salah satu mantan Deputi Bank Indonesia, Budi Mulya. Berdasarkan ulasan di majalah Tempo yang terbit periodel 21-27 Juli 2014, halaman 79-82, judul “Vonis Pembuka Kotak Pandora”, ijinkan penulis berkomentar.

Awalnya, ketika sering mendengar persoalan Bank Century, beragam isu keuangan dan juga politik negara dimainkan di sini. Karena kekhawatiran Komisi Stabilitas Sistem Keuangan (KKSK) akan munculnya kembali krisis keuangan seperti terjadi di Indonesia pada tahun 1997-1998 silam, maka disepakati diberikanlah kepada bank milik seorang bernama Robert Tantular ini Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP). Perbedaan pendapat yang terjadi antara mantan Wapres, Jusuf Kalla dengan Boediono dan Sri Mulyani juga terang-terangan disampaikan di media. Oleh Jusuf Kalla disampaikan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan di tahun 2008-2009, krisis yang melanda Eropa dan Amerika Serikat tidak berpengaruh besar pada perekonomian Indonesia, Jusuf Kalla pun menilai bahwa pemberian PFJP merupakan langkah keliru yang pada akhirnya justru merugikan negara. Lain dengan pendapat yang disampaikan oleh Boedino dan Sri Mulyani, mereka menilai langkah tersebut tepat, bahkan termasuk diri penulis berpendapat, bahwa demi terjaganya kurs dan juga meredam kepanikan masyarakat, bahkan untuk menghindari terjadinya ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan maka disalurkanlah FPJP ini kepada Bank Century. Penulis menilai, perbedaan yang terjadi antara kedua belah pihak di atas tak lebih dikarenakan cara pandang masing-masing pihak, Jusuf Kalla sebagai insan ekonomi mikro sedangkan Boediono dan Sri Mulyani sebagai insan ekonomi makro.

Lama kelamaan mulai terkuak apa yang sebenarnya terjadi, setelah dilakukan serangkaian penyelidikan terhadap kasus ini. Dalam surat dakwaan yang dibacakan pada siding putusan Budi Mulya, ada upaya yang dilakukan sedemikian rupa agar penyaluran FPJP tetap dapat dilaksanakan. Rasio kecukupan modal (CAR) yang dipersyaratkan oleh Bank Indonesia melalui Peraturan bank Indonesia Nomor 10/26/PBI/2008 tanggal 29 Oktober 2008 untuk bank yang akan mendapatkan FPJP adalah 8 persen. Setelah dilakukan penghitungan CAR Bank Century ternyata didapati bahwa CAR dari bank Century adalah 2,35 persen. Untuk mengakali hal itu, pada 14 November 2008 Dewan Gubernur Bank Indonesia menerbitkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/30/2008 untuk merevisi aturan sebelumnya. Aturan baru menyebutkan bank pemohon FPJP hanya wajib memiliki CAR positif, asalkan tidak minus.

Setelah dana Rp. 689,39 miliar mengucur ke Bank Century, baru diketahui bahwa CAR Century adalah minus 3,53 persen. Belakangan diketahui CAR yang menyatakan bahwa Century plus 2,35 persen adalah kadaluarsa karena menggunakan laporan September tahun 2008, alias kadaluarsa satu bulan. Setelah FPJP terbukti tak ampuh, satu-satunya cara adalah menyerahkan bank Century ke KKSK yang diketuai oleh Sri Mulyani. KKSK hanya bisa mengambil alih Century jika kasus Century ini dapat membawa dampak sistemik bagi perbankan nasional. Pada waktu itu, diketahui bahwa tidak semua pejabat BI setuju dengan penetapan Century sebagai bank gagal dan berdampak sistemik, alasannya Bank Century tergolong bank kecil yang total asetnya hanya 0,72 persen dari perbankan nasional. Namun, pada akhirnya Bank Century tetap ditetapkan sebagai bank gagal berdampak sistemik. Hingga pada akhirnya BI menyurati KKSK pada 20 November 2008, isinya menyatakan agar Century diberi bantuan lagi sebesar Rp. 1,77 trilyun agar CAR nya bisa mencapai 8 persen. Sebelum surat disetujui Sri Mulyani, menurut Jaksa sekretaris KKSK, Raden Pardede meminta agar angka Rp. 1,77 trilyun diubah menjadi Rp. 632 miliar, BI pun menurut pada KKSK, dan surat itupun ditandatangani oleh Sri Mulyani. Setelah itu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang mengambil alih Century. Berkali-kali dilakukan pemberian bantuan, hingga Juni 2009 LPS sudah memberikan dana sebesar Rp. 6,73 triliun kepada Century.

Sebagai tambahan informasi, dilaporkan bahwa Budi Mulya pernah meminjam dana sebesar Rp. 1 miliar, yang menurut infonya dana itu sudah ia kembalikan. Namun KPK tidak hanya menyoroti sekedar pada pengembalian dana tersebut, terlepas apakah sudah dikembalikan atau belum dana tersebut, yang jelas sudah ada semacam kesepakatan atau bisa juga disebut balas budi, sehingga itu sebabnya Budi Mulya begitu kokoh ingin mengajukan FPJP untuk Century. Selain itu, konflik kepentingan tidak hanya terjadi antara Budi Mulya dana Robert Tantular, jajaran BI pun memiliki kepentingan dengan Century, karena di bank tersebut ada deposito milik Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia sebesar Rp. 80 miliar, jika Century dinyatakan ditutup, maka dana yang dijamin oleh LPS maksimal Rp. 2 miliar.

Sungguh luar biasa, bagaimana tidak, bank yang di era tahun 2008-2009 tidak terdengar suaranya karena kurang pupuler di kalangan masyarakat biasa, mendadak menjadi bahan pemberitaan dan perbincangan seantero nusantara, bahkan dunia. Menurut penulis, beberapa kejanggalan yang mencuat adalah, pertama, setelah diketahui bahwa CAR nya di bawah 8 persen, mengapa tetap diupayakan cara agar bailout bisa tetap dilaksanakan, dengan diterbitkan peraturan baru? Yang kedua, penghitungan nilai CAR yang keliru, bagaimana mungkin orang-orang ekonomi terbaik yang dimiliki Indonesia, yang ditempatkan di Bank Sentral bisa melakukan kesalahan sebesar itu, dengan menghitung berdasarkan data yang sudah kadaluarsa? Yang ketiga, mengapa perlu dikeluarkan pernyataan bahwa bank Century adalah bank gagal yang berdampak sistemik, padahal diketahui asetnya amat kecil, sehingga tidak berpengaruh terhadap perbankan nasional, seharusnya waktu itu itu cukup dikatakan bank gagal yang tidak berdampak sistemik. Keempat, mengapa ada semacam negosiasi nilai FPJP, bahkan akhirnya terkesan dimanipulasi agar dapat disetujui oleh ketua KKSK? Kelima, Mengapa LPS bisa terus menerus memberikan bailout sementara kesehatan Century tidak juga membaik, bagaimana bisa keluar angka hingga Rp. 6,73 triliyun tanpa sepengatuhan KKSK, apakah KKSK tidak melakukan pengawasan setelah kebijakan bailout dilaksanakan? Yang keenam, seakan-akan seperti sudah direncanakan bahwa Robert Tantular harus menghilang dan sulit ditemukan, supaya KPK pun kesulitan untuk mengungkap kebenaran yang terjadi di balik ini semua.

Terus terang, pada awalnya penulis amat yakin dengan kapabilitas dan kredibilitas serta integritas dari pejabat-pejabat keuangan negara, dalam hal ini BI, KKSK, maupun internal Kementerian keuangan, namun seiring berkembangnya kasus ini, semakin terkuak bahwa sepertinya ada skenario besar yang dimainkan oleh mereka, entah untuk siapa mereka melakukannya, yang jelas ini sudah merugikan negara dan juga membawa kemunduran bagi keberadaan kaum cendekia dari bidang keuangan di Republik ini.. Semoga segera teruangkap kebenaran sejatinya.

Selasa, 20 Mei 2014

Masih Perlukah Pendidikan Formal?

Beberapa tahun terakhir, pada jaman pemerintahan Bapak SBY, Indonesia mencanangkan program pendidikan yang membuat masyarakat yang tadinya menganggap pendidikan sebagai barang mahal, menjadi berbalik pemikirannya. Itu karena pemerintah menaikkan anggaran pendidikan menjadi 20 persen dari total APBN. Jumlah yang sungguh besar, yang dapat menunjukkan bahwa pemerintah bersungguh-sungguh untuk memberantas kebodohan di negeri ini. Biaya pendidikan di tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menegah Atas yang statusnya negeri, dijamin oleh pemerintah, tidak hanya di situ, pemerintah juga menganggarkan dan menyalurkan anggaran pembelian buku bagi para siswa. Meskipun sempat menjadi ajang korupsi bagi para oknum guru dan kepala sekolah di beberapa daerah, namun berkat perbaikan manajemen, pengelolaan dana bantuan pendidikan dapat berubah ke arah yang baik.

Selain memikirkan siswa, pemerintah juga memikirkan nasib kaum pahlawan tanpa tanda jasa, sejak era kepemimpinan Bapak SBY, pemerintah memberian tunjangan kepada guru yang sudah memiliki sertifikat sebagai tenaga pendidik, tunjangan ini dinamakan tunjangan sertifikasi guru. Besarannya signifikan jika dibandingkan dengan take home pay guru sebelumnya. Selain dari pemerintah pusat, pemerintah daerah juga menyambut baik ajakan pemerintah pusat untuk sama-sama memikirkan pendidikan di daerahnya masing-masing. Mereka mulai merenovasi sekolah-sekolah yang bangunannya sudah tidak layak untuk sarana belajar-mengajar, dan beberapa daerah yang "mampu" juga turut memikirkan kesejahteraan kaum guru di daerahnya.

Menjelang akhir kepemimpinan di tingkat eksekutif dan legislatif, isu-isu pendidikan juga biasanya diangkat, mereka menjanjikan bahwa jika kelak caleg atapun capres/calon kepala daerah terpilih, maka masyarakat akan  diberikan pendidikan gratis dengan standar kualitas terbaik. Lalu sebenarnya bagaimana dengan kualitas caleg/capres/calon kepala daerah yang akan kita pilih? Apakah mereka juga insan-insan yang berpendidikan? Atau mereka hanya sekedar menggunakan pendidikan sebagai promosi untuk meraih jabatan dan kekuasaan?

Dalam Pemilu Legislatif yang telah bangsa Indonesia laksanakan, menurut data Kompas, Senin 19 Mei 2014 hal 5, Sultani dan Toto menulis bahwa hampir sembilan puluh persen anggota Dewan yang baru saja terpilih bertaraf pendidikan strata 1 dan 2. Ada secercah harapan bahwa kelak para wakil rakyat yang baru terpilih ini akan berdiskusi dengan berbagai sudut pandang sesuai dengan bidang ilmu mereka, dan karena bidang ilmu mereka beraneka ragam, maka mereka semua akan saling melengkapi, sehingga diharapkan akan diperoleh produk undang-undang yang mewadahi segenap lapisan masyarakat.

Lain halnya dengan Pemilu Eksekutif (pilpres), dalam peraturan yang diterbitkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), salah satu persyaratan yang diwajibkan untuk mengajukan diri sebagai presiden dan wakil presiden RI adalah WNI dengan minimal pendidikan SLTA. Terasa ganjil membaca salah satu persyaratan ini, karena untuk menjadi seorang pegawai negeri atau karyawan  swasta dengan posisi "agak tinggi" saja diperlukan calon pegawai dengan taraf pendidikan strata 1, dan untuk level manajer, lebih dicari mereka yang berpendidikan strata 2, sedangkan KPU mensyaratkan seorang lulusan SLTA untuk memikirkan arah dan tujuan bangsa sebesar bangsa Indonesia.Apakah ini masuk akal? Universitas-universitas di negara kita baik yang negeri maupun swasta setiap tahunnya melahirkan puluhan ribu sarjana baru maupun lulusan pascasarjana, tetapi mengapa seakan sulit mencari presiden yang memiliki gelar kesarjanaan?

Hal tersebut tentu bertentangan dengan program pencerdasan bangsa, mereka yang lulusan SLTA merasa tidak perlu memiliki pendidikan tinggi, toh juga lulusan SLTA cukup untuk melamar menjadi presiden RI. Tentu hal ini melukai civitas akademika di setiap universitas di Indonesia. Kaum intelektual akan merasa bahwa kepintaran akademik yang mereka miliki tidak dihargai oleh negaranya sendiri.

Namun di sisi lain, di sini saya tidak ingin meng-underestimate mereka yang lulusan SLTA, belum tentu juga mereka yang berpendidikan tinggi mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa, karena kebanyakan mereka yang berpendidikan tinggi justru menggunakan kepintarannya untuk mengambil keuntungan bagi pribadi maupun partainya.

Lalu pemimpin yang tepat seperti apa?

Yang patut jadi pemimpin itu mereka yang memiliki kemampuan akademik, entah strata 1, 2 ataupun 3, tentunya gelar akademik tersebut benar-benar ditempuh sesuai dengan jalur resmi, bukan dengan berlaku curang dengan melakukan plagiarisme ataupun pembelian ijazah yang akhir-akhir ini marak terjadi. Selain bertaraf pendidikan tinggi, pemimpin juga harus memiliki hati yang bersih, jujur dan mulia. Semoga Indonesia mendapatkan pemimpin terbaiknya.... 
  

Sabtu, 19 April 2014

Misa Malam Paskah 2014 (Pribadi Yang Baik dan Pribadi Yang Tidak Baik)

Hari ini adalah hari Paskah.. 

Hari Paskah adalah hari kebangkitan Yesus Kristus setelah 3 hari Ia wafat karena disiksa dan pada akhirnya
disalibkan.
Sebagai orang Katolik, saya dan keluarga saya pergi merayakannya ekaristi malam Paskah di gereja.
Biasanya kami pergi ke gereja Kalvari, Pondok Gede. Namun karena kami ingin mencoba suasana misa di gereja lain, dan kebetulan gereja yang akan kami datangi, ekaristinya itu dipimpin oleh Bapak Uskup Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo. Singkat cerita berangkatlah kami dari rumah menuju gereja St. Katarina, TMII.

Misa dimulai jam 19.00, jam 18.40 kami datang dan melihat umat sudah mulai memenuhi bangku gereja. Dengan dibantu petugas tata tertib, kami mendapatkan tempat duduk di dalam gereja, kebetulan masih terdapat 4 baris yang kosong. Namun ketika kami masuk, ada beberapa Ibu yang sudah sepuh (baca : tua, bhs Jawa halus) yang tampaknya tidak terlalu welcome dengan kedatangan kami. Ah, biar saja yang penting kami tetap sopan, begitu pikir saya.  

Saya memiliki dua anak, Kania dan Arsen, cowok dan cewek, yang Kania usianya 3 tahun kurang 1 bulan, sedangkan Arsen usianya 1 tahun kurang 2 bulan. Awal kami datang di gereja, mereka tenang, malahan Arsen dalam posisi tidur. Tidak lama kemudian, setelah mereka adaptasi dengan situasi dan kondisi yang ada, Kania mulai bertanya kepada saya mengenai neon box yang ada di dalam gereja, neon box itu berjumlah empat belas dan memang benar-benar eye catching bagi anak saya, Kania, ya deretan neon box itu adalah prosesi Jalan Salib. Saya pun dengan senang menjelaskan kepada Kania yang sedang dalam usia emasnya selalu ingin tahu keadaaan sekitarnya. Namanya anak-anak, dia tidak hanya sekedar bertanya mengenai hal itu, mulailah dia bercerita tentang hal ini dan hal itu yang semua berasal dari imajinasinya dan pengalaman di sekolahnya. Saya mulai mendengar gerutu Ibu sepuh di belakang kami, mungkin ia terganggu dengan kegaduhan yang dibuat Kania. Namanya anak-anak, sistem tubuhnya masih belum bisa ditebak, Kania pun pup di gereja, karena dia pakai baby diapers, saya suruh dia lanjutkan pup-nya, nanti tinggal dibuang baby diapers-nya sambil dibersihkan di toilet. Tanpa diduga, saya dapati sikap yang sungguh tidak menggambarkan seorang yang baik, Ibu sepuh itu menutup hidungnya dengan buku panduan yang ia pegang, padahal tercium pun tidak bau feses Kania. Ditambah lagi sikap tidak sopannya itu ia tunjukkan ketika ia duduk dan menyilangkan kakinya, entah disengaja atau tidak, kakinya mendorong kursi yang saya duduki, sehingga kursi itu terasa mulai maju dan membuat tempat berdiri saya menjadi sempit dan akhirnya saya terdorong oleh kursi saya yang didorong oleh kakinya, untun saja si Bapak yang mengingatkan bahwa kakinya itu telah mendorong kursi saya.

Di dalam misa malam Paskah, ada tradisi penyalaan lilin Paskah, Kania dan Arsen senang dengan suasana malam di dalam gereja yang lampunya dipadamkan semua, dan hanya diterangi oleh lilin-lilin umat yang menyala. Saking riangnya, dia bersuara dan sekali lagi mungkin suaranya ini mengganggu si Ibu itu lagi. Hal itu terjadi sepanjang misa, gerutu dan omelan lirih yang saya dengar lama-lama membuat saya kesal, dan sempat saya berfikir, apa orang ini tidak dianugerahi anak ya? makanya dia tidak bisa menerima hal wajar yang dilakukan anak kecil. Sampai ketika Kania mau mengajak toss dengan suami dari Ibu ini, Ibu ini melirik sinis, dan sudah barang tentu itu membuat kekesalan saya memuncak, saya pun balas memelototi dia, hampir saja saya mau berucap "ini hanya sikap anak-anak yang wajar, sikap ada sebagai orang dewasa sungguh tidak tepat, dan kalau boleh saya jujur, saya lebih terganggu dengan batuk berdahak anda". Tapi syukurlah saya masih bisa menahan emosi saya. 

Tuhan meredakan emosi saya dengan menghadirkan pribadi-pribadi yang baik yang duduk di sekitar tempat duduk saya tadi malam. Dua orang Ibu sepuh mengajak Arsen bermain tiup lilin, dan seorang Ibu sepuh lain mengajak Kania menerima berkat dari Uskup ketika komuni dilaksanakan, selain itu anak muda di samping kananku mengajak Kania bersenda gurau, dan terakhir ketika misa sudah usai, seorang Ibu di depan tempat duduk kami menanyai Kania dan akhirnya Kania mulai bercerita tentang adiknya dan sekolahnya sendiri. 

Pelajaran yang kudapati tadi malam, tidak semua orang itu baik, bahkan tidak semua orang Katolik itu baik. Selalu saja ada orang yang tidak baik di kehidupan kita, namun percayalah jumlah orang baik lebih banyak. Tinggal pilihan kita, mana yang mau kita ikuti menjadi orang baik atau menjadi orang yang tidak baik dengan kepribadian yang tidak menyenangkan seperti Ibu tua yang sedari tadi saya ceritakan..

Inilah kesan Paskah saya di 2014, Selamat Paskah saudaraku, semoga kita diperbarui Tuhan Yesus yang bangkit dari mati untuk menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya....Berkah Dalem. 

Kamis, 03 April 2014

Airport Tax Yang Mencekik

Airport Tax Yang Mencekik


Pada tahun 2013 yang lalu ada beberapa bandara yang tampak sedang berbenah untuk mempercantik diri dengan merenovasi atau membangun infrastruktur bandaranya. Pembangunan yang dimaksud adalah pembangunan bandara secara fisik, ada yang menambah fasilitas baru, merenovasi yang sudah ada, atau bahkan membangun bandara baru seperti halnya bandara Kualanamu, Medan.

Secara penampilan tentu bandara yang sudah menata dirinya itu tampil menjadi bandara yang lebih gagah, mewah, dan juga anggun secara fisik, Namun bagaimana dengan kualitas manajemennya?

Di awal April tahun 2014 ini, PT. Angkasa Pura menaikkan tarif pajak bandara atau yang lebih dikenal dengan istilah airport tax. Dari yang semula di kisaran Rp.40.000,- naik menjadi Rp.75.000,-. Kenaikannya luar biasa, nyaris 100%. Jumlah yang cukup fantastis, di saat maskapai berlomba memberikan tiket murah kepada para calon penumpangnya, pihak bandara justru membebani penumpang pesawat dengan pajak bandara yang tinggi. Alasan pihak bandara menaikkan airport tax adalah untuk mengganti biaya investasi yang sudah dikeluarkan pihak Angkasa Pura. Apakah demikian langkah yang harus ditempuh? 

Bandara memiliki beberapa sumber pendapatan. Dari bermacam-macam pendapatan tersebut, dikelompokkan menjadi dua kelompok pendapatan, pertama adalah pendapatan yang berasal dari penerbangan, dan yang kedua adalah pendapatan yang berasal dari non penerbangan. Jika berbicara pendapatan penerbangan, maka selalu ada nilai surplus di sana, sebab mulai dari pesawat masuk pengawasan tower suatu bandara, penggunaan landasan, berjalan di taxiway, ground handilng hingga parkir, semuanya dikenai biaya oleh bandara, itulah yang disebut dengan pendapatan penerbangan. Sedangkan pendapatan non penerbangan meliputi penyewaan ruang untuk counter maskapai, penyewaan ruang untuk counter pengusaha jasa atau barang dagangan, penyewaan ruang untuk reklame, parkir kendaraan penumpang/pengantar, sewa ATM, dan masih banyak lagi yang sifatnya pendapatan non penerbangan.  

Tahun lalu, masih digunakan sistem gabungan antara divisi aeronautika/penerbangan dengan divisi non aeronautika/non penerbangan, namun sejak tahun 2013 akhir sudah dipisahkan antara kedua divisi tersebut. Dengan sumber pendapatan yang digabung, pada akhirnya akan terjadi penilaian prestasi yang sama. Ya, kepada divisi pendapatan akan muncul satu penilaian saja. Seiring dengan dipisahkannya divisi pendapatan, menjadi pendapatan penerbangan dan pendapatan non penerbangan, maka penilaian akan prestasi pun menjadi dua penilaian, penilaian prestasi untuk divisi penerbangan dan penilaian untuk divisi non penerbangan. Seperti penulis kemukakan di atas bahwa dari segi penerbangan, tidak masalah untuk memberikan kontribusi yang positif kepada perusahaan, terlebih jika bandara tersebut melayani rute-rute internasional, karena jika bandara melayani penerbangan internasional, tarif yang mereka berlakukan lebih tinggi jika dibandingkan dengan melayani penerbangan domestik. 

Lalu bagaimana dengan divisi non penerbangan?

Divisi non penerbangan tentu juga diberi target oleh manajemen untuk mengumpulkan pendapatan dalam jumlah tertentu setiap tahunnya melalui Rencana Kerja dan Anggaran yang mereka susun setiap tahun. Mungkin saja kenaikan airport tax yang saat ini terjadi merupakan salah akibat dari perubahan sistem manajemen pendapatan bandara. Karena divisi penerbangan dan non penerbangan dipisah, dan setiap divisi diminta untuk memberikan kontribusi yang baik kepada perusahaan, maka diambillah kebijakan menaikkan tarif airport tax

Menurut penulis, kebijakan tersebut kurang tepat dan amat disayangkan. Di saat negara kita sedang bergeliat untuk membangun, di saat setiap daerah berlomba-lomba untuk menonjolkan kelebihan-kelebihan daerahnya dengan pariwisata terbaik yang dimilikinya, pihak Angkasa Pura justru menaikkan tarif airport tax yang sungguh tidak sejalan dengan program pemerintah. Semestinya bukan jalan menaikkan airport tax yang harus ditempuh, alih-alih untuk mengembalikan biaya investasi yang sudah dikeluarkan bandara, masih banyak jalan lain yang dapat ditempuh, apalagi investasi merupakan biaya yang tidak serta merta secepat kilat dapat dikembalikan kepada manejemen pusat, melainkan dilakukan secara bertahap dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Jika alasan lain adalah karena terget yang harus dikejar oleh divisi non penerbangan, toh juga kebijakan pemberlakuan perhitungan sewa ruang yang dilakukan bandara sudah cukup menekan para pelaku usaha di sekitar bandara, artinya pendapatan yang diterima bandara juga sudah cukup besar dari segi penyewaan ruang. Sebagai ilustrasi untuk pembaca, jika pembaca menyewa ruangan di bandara untuk melakukan usaha, maka akan dihitung berapa biaya sewa per meternya, untuk dikalikan dengan luas ruangan tersebut, setelah itu selama pelaku usaha memperoleh omzet, maka pihak bandara akan mengenakan conssetion fee dari omzet yang pelaku usaha terima. Selain itu pengenaan tarif parkir berdasarkan sistem progresif tentunya dapat menolong untuk mencapai target yang ditetapkan. Selain itu yang utama dan pertama adalah mengenai penetapan rencana kerja dan anggaran, semestinya lebih memikirkan kondisi riil di lapangan, tidak hanya sekedar di angan-angan belaka, selain itu jangan hanya memikirkan bagaimana caranya memperoleh pendapatan sebesar-besarnya, namun hendaknya juga dipikirkan bagaimana menekan pengeluaran/biaya-biaya, terutama biaya operasional. Tidak semestinya bandara yang merugi diberikan bonus yang sama dengan bandara yang memiliki prestasi baik.

Semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi kita semua, khususnya pihak manajemen Angkasa Pura...

Jumat, 20 September 2013

Memaknai Kecerdasan



Memaknai Kecerdasan
Cerdas !

Seringkali kita mendengar seseorang memuji orang lain dengan ungkapan seperti itu. Biasanya pujian tersebut terlontar ketika seseorang menyampaikan ide yang cemerlang, gagasan yang unik dan menarik, ataupun jalan keluar dari suatu permasalahan yang dihadapinya. Ya, memang kecerdasan cenderung dikaitkan dengan kemampuan olah otak sehingga melahirkan pemikiran-pemikiran yang hebat. Tapi benarkah bahwa kecerdasan hanya semata-mata seperti itu?
Penulis berpendapat bahwa ada beberapa macam kecerdasan yang dapat dimiliki oleh setiap manusia, antara lain : kecerdasaan intelektual, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, kecerdasan finansial, dan kecerdasan etika. Baiklah, akan kita ulas satu per satu.

Kecerdasan Intelektual

Kecerdasan ini seperti yang telah penulis paparkan pada pengantar di atas. Kecerdasan ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor bawaan dari gen orang tua. Orang yang memiliki kecerdasan ini akan mudah jika diberi pengarahan atau materi apapun, mereka akan mudah menerima apa saja yang disampaikan oleh pemberi materi. Selain mampu dengan baik menerima setiap penyampaian materi, orang-orang yang memiliki kecerdasan ini juga mampu berbicara dengan bahasa yang tertata dan mudah dipahami, mampu menganalisis masalah hingga mencari jalan keluar, serta menemukan dan mengemukakan ide-ide baru, baik ide yang bersifat ilmiah, sosial maupun seni. Kecerdasan ini dapat diukur dengan melakukan beberapa tes intelenjensi dan potensi akademik, dan tes tersebut sudah amat sering kita jumpai.

Kecerdasan Emosi

Orang yang memiliki ataupun tidak memiliki kecerdasan emosi dapat dengan mudah kita jumpai. Dengan melihat di sekeliling kita, kita dapat langsung menilai apakah seseorang tersebut memiliki kecerdasan emosi atau tidak. Sebagai contoh, kasus tawuran yang dewasa ini marak terjadi, baik tawuran yang terjadi antarpelajar hingga tawuran yang terjadi antarwarga. Jelas hal itu menunjukkan bahwa mereka yang terlibat tawuran tidak memiliki kecerdasan emosi. Kita semakin dibuat miris manakala pelakunya adalah mahasiswa, yang mana kaum mahasiswa sering disebut sebagai kaum cendekiawan, kaum yang memiliki kecerdasan intelektual yang baik, namun ternyata mereka tidak memiliki kecerdasan emosi yang baik.      

 
Kecerdasan Spiritual
Para pemuka agama dan alim ulama tentu diwajibkan memiliki kecerdasan seperti ini, karena mereka adalah teladan bagi masyarakat. Kecerdasan ini membutuhkan suatu pemahaman yang mendasar tentang bagaimana mengilhami dan mengimani Yang Maha Kuasa. Kedekatan dengan yang Maha Kuasa juga harus didukung dengan perilaku yang baik terhadap sesama dan lingkungan sekitar. Sehingga kalau kita mau melihat di sekitar tempat tinggal kita, jika ada yang mengaku-aku dirinya adalah seorang yang taat beragama namun perbuatannya jauh dari kesan kasih sayang terhadap sesama dan lingkungan, dapat dikatakan orang itu tidak cerdas secara spiritual.

Kecerdasan Finansial

Orang yang memiliki penghasilan yang besar belum tentu cerdas secara finansial. Meskipun penghasilannya besar jika tidak didukung dengan manajemen keuangan yang baik, maka yang terjadi adalah seperti kata pepatah “besar pasak daripada tiang”. Orang yang berpenghasilan pas-pasan jika memang pengelolaan keuangannya baik, dan ternyata ia masih bisa menyisihkan penghasilannya untuk ditabung atau diinvestasikan, maka orang tersebut yang layak disebut sebagai orang yang memiliki kecerdasan finansial.

Kecerdasan Etika

Kecerdasan ini erat kaitannya dengan tata hidup dalam masyarakat. Bagaimana kita berinteraksi dengan tetangga dan masyarakat sekitar, berbicara santun, berpakaian yang pantas sesuai dengan waktu dan tempat, dan masih banyak yang lain. Jika suatu saat kita melihat orang dari dalam mobil membuang sampah tidak pada tempatnya, sementara kita lihat status sosialnya (dari mobilnya dan juga dari penampilannya) sepertinya ia kaum elit, maka dapat dikatakan ia cerdas secara intelektual dan finasial, tetapi tidak secara etika. Atau jika anda temui orang yang tidak mau mengantri untuk mendapatkan layanan kasir di supermarket (bukan karena keadaan emergency), dapat kita katakan  bahwa ia tidak cerdas secara etika.

Setelah melihat beberapa macam kecerdasan di atas, tentu timbul pemikiran tentang mana kecerdasan yang terpenting yang harus dimiliki setiap manusia. Dibutuhkan skala untuk menentukan prioritas kecerdasan, dan setiap orang yang menilai pun pasti memiliki pendapat yang berbeda-beda.  Hal itu wajar dan memang tidak dapat ditentukan mana yang semestinya menjadi pertama dan utama, yang terpenting kita yang diberi akal budi oleh Yang Kuasa untuk menentukan kehidupan ini dapat memiliki makna bagi sesama dan lingkungan, serta tetap menjaga kemesraan hubungan kita dengan Tuhan. **

Oleh : Antonius Himawan Yudha,S.E.MM.