Selasa, 09 September 2014

Prinsip Ekonomi yang salah dimengerti...

Aneh tapi nyata, itulah yang mampu saya katakan ketika ada seseorang yang ingin berbisnis tetapi tidak ingin mengeluarkan pengorbanan sama sekali. Mengapa saya bisa berkata demikian? kira-kira begini ceritanya...

Kebetulan saya menjabat sebagai bendahara di salah satu instansi. Sebagai bendahara tentu tidak jauh-jauh dari urusan uang, karena mengelola keuangan adalah tugas pokok dari seorang bendahara. Karena judulnya tadi "mengelola keuangan", tidak heran banyak orang datang kepada saya untuk minta bantuan, biasanya mereka kasbon (menerima penghasilan di depan, sebelum waktunya penghasilan tersebut dibayarkan sesuai jadwal sebenarnya). Bermacam-macam tujuan orang kasbon, mulai dari karena kebutuhan yang benar-benar mendesak sampai pada kebutuhan yang sifatnya konsumtif belaka. Untuk tujuan yang terakhir ini, saya amat jarang merilis bantuan kasbon mereka. 

Kembali ke topik aneh tapi nyata tadi, dua hari terakhir ini secara berturut-turut ada pegawai yang menghadap ke saya, pegawai yang pertama menyampaikan kepada saya bahwa ia ditawari sebuah rumah oleh orang sedang butuh uang segera, karena ia belum punya rumah, maka ia sangat tertarik untuk membelinya, namun tabungannya tidak mencukupi, kemudian dia mencoba menanyakan apakah saya bisa membantunya, dengan catatan dia sanggup dipotong gaji selama sepuluh bulan berturut-turut. Saya jelas langsung menolak untuk membantunya, kemudian saya coba carikan solusi untuk dia, pertama, saya arahkan dia untuk meminjam dana di perbankan atau koperasi, saya sampaikan kalau meminjam uang di perbankan atau di lembaga koperasi untuk tujuan membeli rumah, hal tersebut amat sangat dimaklumi dan itu bukanlah kredit yang sifatnya konsumtif, namun jawabannya kepada saya adalah ia enggan membayar bunga, dia sampaikan kalau lebih baik dana untuk membayar bunga tersebut digunakan untuk membeli sebuah telepon genggam baru. Solusi kedua saya adalah untuk menjual aset yang dimilikinya, dan betapa terkejutnya saya ternyata ia memiliki mobil untuk berangkat kerja ke kantor, saya pun memintanya untuk dijual guna mencukupi biaya pembelian rumah yang ia inginkan. Atas solusi kedua saya ini, ia pun menjawab bahwa ia membutuhkan mobil untuk berangkat ke kantor, karena tanpa mobil maka ia akan merasa lelah karena harus berpindah-pindah angkot, dan karena kelelahan di jalan dikhawatikan hasil dari pekerjaannya tidak akan maksimal. 

Saya mulai tidak simpati dengan pegawai ini, karena menurut saya untuk mencapai tujuannya ia tidak mau mengorbankan sama sekali, baik uang untuk membayar bunga pinjaman maupun mengorbankan kenyamanannya demi sebuah rumah impian. Obrolan pun terus berlanjut, walaupun menurut saya obrolan itu sudah tidak berguna, hanya membuang waktu saya saja, hingga pada akhirnya entah keceplosan atau memang ia berupaya jujur bahwa niat akhir dari membeli rumah yang ditawarkan kepadanya adalah untuk dijual lagi, oh my God...pegawai ini memang benar-benar kikir dan culas pikir saya, kalaupun ia berniat beli-jual rumah untuk bisnis, seharusnya tidak menjadi masalah jika harus membayar bunga pinjaman, karena saya yakin keuntungan dari penjualan rumah itu akan mampu menutupi biaya bunga pinjaman, masih bisa untuk membeli sebuah telepon genggam yang diinginkannya, malahan pula masih bisa untuk ditabung untuk digunakan sebagai modal beli-jual rumah selanjutnya.. Dan obrolan tak berguna itu pun berakhir.

Keesokan harinya, ada lagi pegawai yang menemui saya untuk meminjam dana "murah", ya, saya katakan dana murah karena dengan kasbon ataupun meminjam kepada saya, maka mereka tidak perlu membayar bunga. Kali ini ada pegawai yang ingin berbisnis hewan kurban. Pola permainan dan kecenderungan watak pegawai ini kurang lebih saja dengan pegawai pertama yang ingin beli-jual rumah tadi. Karena saya sedang sibuk, saya langsung to the point, maaf saya tidak bisa, karena kas yang ada di bendahara tidak mencukupi. Selesai perkara. 

Dari dua peristiwa yang saya ceritakan di atas, saya ingin tegaskan bahwa memang betul bahwa berbisnis sah-sah saja manakala bisnis itu adalah bisnis yang tidak melanggar undang-undang, melakukan bisnis dengan menerapkan prinsip ekonomi pun sah-sah saja, malahan kalau menurut saya itu perlu, tetapi jangan ditelaah secara dangkal, dalam prinsip ekonomi diperoleh pengertian upaya untuk meningkatkan kesejahteraan melalui perolehan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya, camkan sekecil-kecilnya!, bukannya tanpa pengorbanan sama sekali. Konyol memang tapi itulah yang saya temui dua hari terakhir ini..... 

 


Senin, 28 Juli 2014

Yang Aneh Pada Bailout untuk Bank Century

Perseteruan tentang kasus Bank Century tak kunjung selesai. Sudah banyak pejabat negara yang dipanggil untuk diselidiki oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), terutama pejabat negara yang terkait dengan keuangan negara Republik Indonesia di era tahun 2008-2009. Gubernur Bank Indonesia yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia dan juga Menteri Keuangan di tahun itu yang kini menjadi salah satu Manager di International Monetary Fund (IMF) juga tak luput dari panggilan KPK.

Penulis mencoba mengikuti kasus ini, banyak yang dipanggil untuk memberikan kesaksian, tetapi belum jelas siapa tersangkanya. Hingga pada akhirnya, ditetapkanlah oleh KPK salah satu mantan Deputi Bank Indonesia, Budi Mulya. Berdasarkan ulasan di majalah Tempo yang terbit periodel 21-27 Juli 2014, halaman 79-82, judul “Vonis Pembuka Kotak Pandora”, ijinkan penulis berkomentar.

Awalnya, ketika sering mendengar persoalan Bank Century, beragam isu keuangan dan juga politik negara dimainkan di sini. Karena kekhawatiran Komisi Stabilitas Sistem Keuangan (KKSK) akan munculnya kembali krisis keuangan seperti terjadi di Indonesia pada tahun 1997-1998 silam, maka disepakati diberikanlah kepada bank milik seorang bernama Robert Tantular ini Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP). Perbedaan pendapat yang terjadi antara mantan Wapres, Jusuf Kalla dengan Boediono dan Sri Mulyani juga terang-terangan disampaikan di media. Oleh Jusuf Kalla disampaikan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan di tahun 2008-2009, krisis yang melanda Eropa dan Amerika Serikat tidak berpengaruh besar pada perekonomian Indonesia, Jusuf Kalla pun menilai bahwa pemberian PFJP merupakan langkah keliru yang pada akhirnya justru merugikan negara. Lain dengan pendapat yang disampaikan oleh Boedino dan Sri Mulyani, mereka menilai langkah tersebut tepat, bahkan termasuk diri penulis berpendapat, bahwa demi terjaganya kurs dan juga meredam kepanikan masyarakat, bahkan untuk menghindari terjadinya ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan maka disalurkanlah FPJP ini kepada Bank Century. Penulis menilai, perbedaan yang terjadi antara kedua belah pihak di atas tak lebih dikarenakan cara pandang masing-masing pihak, Jusuf Kalla sebagai insan ekonomi mikro sedangkan Boediono dan Sri Mulyani sebagai insan ekonomi makro.

Lama kelamaan mulai terkuak apa yang sebenarnya terjadi, setelah dilakukan serangkaian penyelidikan terhadap kasus ini. Dalam surat dakwaan yang dibacakan pada siding putusan Budi Mulya, ada upaya yang dilakukan sedemikian rupa agar penyaluran FPJP tetap dapat dilaksanakan. Rasio kecukupan modal (CAR) yang dipersyaratkan oleh Bank Indonesia melalui Peraturan bank Indonesia Nomor 10/26/PBI/2008 tanggal 29 Oktober 2008 untuk bank yang akan mendapatkan FPJP adalah 8 persen. Setelah dilakukan penghitungan CAR Bank Century ternyata didapati bahwa CAR dari bank Century adalah 2,35 persen. Untuk mengakali hal itu, pada 14 November 2008 Dewan Gubernur Bank Indonesia menerbitkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/30/2008 untuk merevisi aturan sebelumnya. Aturan baru menyebutkan bank pemohon FPJP hanya wajib memiliki CAR positif, asalkan tidak minus.

Setelah dana Rp. 689,39 miliar mengucur ke Bank Century, baru diketahui bahwa CAR Century adalah minus 3,53 persen. Belakangan diketahui CAR yang menyatakan bahwa Century plus 2,35 persen adalah kadaluarsa karena menggunakan laporan September tahun 2008, alias kadaluarsa satu bulan. Setelah FPJP terbukti tak ampuh, satu-satunya cara adalah menyerahkan bank Century ke KKSK yang diketuai oleh Sri Mulyani. KKSK hanya bisa mengambil alih Century jika kasus Century ini dapat membawa dampak sistemik bagi perbankan nasional. Pada waktu itu, diketahui bahwa tidak semua pejabat BI setuju dengan penetapan Century sebagai bank gagal dan berdampak sistemik, alasannya Bank Century tergolong bank kecil yang total asetnya hanya 0,72 persen dari perbankan nasional. Namun, pada akhirnya Bank Century tetap ditetapkan sebagai bank gagal berdampak sistemik. Hingga pada akhirnya BI menyurati KKSK pada 20 November 2008, isinya menyatakan agar Century diberi bantuan lagi sebesar Rp. 1,77 trilyun agar CAR nya bisa mencapai 8 persen. Sebelum surat disetujui Sri Mulyani, menurut Jaksa sekretaris KKSK, Raden Pardede meminta agar angka Rp. 1,77 trilyun diubah menjadi Rp. 632 miliar, BI pun menurut pada KKSK, dan surat itupun ditandatangani oleh Sri Mulyani. Setelah itu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang mengambil alih Century. Berkali-kali dilakukan pemberian bantuan, hingga Juni 2009 LPS sudah memberikan dana sebesar Rp. 6,73 triliun kepada Century.

Sebagai tambahan informasi, dilaporkan bahwa Budi Mulya pernah meminjam dana sebesar Rp. 1 miliar, yang menurut infonya dana itu sudah ia kembalikan. Namun KPK tidak hanya menyoroti sekedar pada pengembalian dana tersebut, terlepas apakah sudah dikembalikan atau belum dana tersebut, yang jelas sudah ada semacam kesepakatan atau bisa juga disebut balas budi, sehingga itu sebabnya Budi Mulya begitu kokoh ingin mengajukan FPJP untuk Century. Selain itu, konflik kepentingan tidak hanya terjadi antara Budi Mulya dana Robert Tantular, jajaran BI pun memiliki kepentingan dengan Century, karena di bank tersebut ada deposito milik Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia sebesar Rp. 80 miliar, jika Century dinyatakan ditutup, maka dana yang dijamin oleh LPS maksimal Rp. 2 miliar.

Sungguh luar biasa, bagaimana tidak, bank yang di era tahun 2008-2009 tidak terdengar suaranya karena kurang pupuler di kalangan masyarakat biasa, mendadak menjadi bahan pemberitaan dan perbincangan seantero nusantara, bahkan dunia. Menurut penulis, beberapa kejanggalan yang mencuat adalah, pertama, setelah diketahui bahwa CAR nya di bawah 8 persen, mengapa tetap diupayakan cara agar bailout bisa tetap dilaksanakan, dengan diterbitkan peraturan baru? Yang kedua, penghitungan nilai CAR yang keliru, bagaimana mungkin orang-orang ekonomi terbaik yang dimiliki Indonesia, yang ditempatkan di Bank Sentral bisa melakukan kesalahan sebesar itu, dengan menghitung berdasarkan data yang sudah kadaluarsa? Yang ketiga, mengapa perlu dikeluarkan pernyataan bahwa bank Century adalah bank gagal yang berdampak sistemik, padahal diketahui asetnya amat kecil, sehingga tidak berpengaruh terhadap perbankan nasional, seharusnya waktu itu itu cukup dikatakan bank gagal yang tidak berdampak sistemik. Keempat, mengapa ada semacam negosiasi nilai FPJP, bahkan akhirnya terkesan dimanipulasi agar dapat disetujui oleh ketua KKSK? Kelima, Mengapa LPS bisa terus menerus memberikan bailout sementara kesehatan Century tidak juga membaik, bagaimana bisa keluar angka hingga Rp. 6,73 triliyun tanpa sepengatuhan KKSK, apakah KKSK tidak melakukan pengawasan setelah kebijakan bailout dilaksanakan? Yang keenam, seakan-akan seperti sudah direncanakan bahwa Robert Tantular harus menghilang dan sulit ditemukan, supaya KPK pun kesulitan untuk mengungkap kebenaran yang terjadi di balik ini semua.

Terus terang, pada awalnya penulis amat yakin dengan kapabilitas dan kredibilitas serta integritas dari pejabat-pejabat keuangan negara, dalam hal ini BI, KKSK, maupun internal Kementerian keuangan, namun seiring berkembangnya kasus ini, semakin terkuak bahwa sepertinya ada skenario besar yang dimainkan oleh mereka, entah untuk siapa mereka melakukannya, yang jelas ini sudah merugikan negara dan juga membawa kemunduran bagi keberadaan kaum cendekia dari bidang keuangan di Republik ini.. Semoga segera teruangkap kebenaran sejatinya.

Selasa, 20 Mei 2014

Masih Perlukah Pendidikan Formal?

Beberapa tahun terakhir, pada jaman pemerintahan Bapak SBY, Indonesia mencanangkan program pendidikan yang membuat masyarakat yang tadinya menganggap pendidikan sebagai barang mahal, menjadi berbalik pemikirannya. Itu karena pemerintah menaikkan anggaran pendidikan menjadi 20 persen dari total APBN. Jumlah yang sungguh besar, yang dapat menunjukkan bahwa pemerintah bersungguh-sungguh untuk memberantas kebodohan di negeri ini. Biaya pendidikan di tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menegah Atas yang statusnya negeri, dijamin oleh pemerintah, tidak hanya di situ, pemerintah juga menganggarkan dan menyalurkan anggaran pembelian buku bagi para siswa. Meskipun sempat menjadi ajang korupsi bagi para oknum guru dan kepala sekolah di beberapa daerah, namun berkat perbaikan manajemen, pengelolaan dana bantuan pendidikan dapat berubah ke arah yang baik.

Selain memikirkan siswa, pemerintah juga memikirkan nasib kaum pahlawan tanpa tanda jasa, sejak era kepemimpinan Bapak SBY, pemerintah memberian tunjangan kepada guru yang sudah memiliki sertifikat sebagai tenaga pendidik, tunjangan ini dinamakan tunjangan sertifikasi guru. Besarannya signifikan jika dibandingkan dengan take home pay guru sebelumnya. Selain dari pemerintah pusat, pemerintah daerah juga menyambut baik ajakan pemerintah pusat untuk sama-sama memikirkan pendidikan di daerahnya masing-masing. Mereka mulai merenovasi sekolah-sekolah yang bangunannya sudah tidak layak untuk sarana belajar-mengajar, dan beberapa daerah yang "mampu" juga turut memikirkan kesejahteraan kaum guru di daerahnya.

Menjelang akhir kepemimpinan di tingkat eksekutif dan legislatif, isu-isu pendidikan juga biasanya diangkat, mereka menjanjikan bahwa jika kelak caleg atapun capres/calon kepala daerah terpilih, maka masyarakat akan  diberikan pendidikan gratis dengan standar kualitas terbaik. Lalu sebenarnya bagaimana dengan kualitas caleg/capres/calon kepala daerah yang akan kita pilih? Apakah mereka juga insan-insan yang berpendidikan? Atau mereka hanya sekedar menggunakan pendidikan sebagai promosi untuk meraih jabatan dan kekuasaan?

Dalam Pemilu Legislatif yang telah bangsa Indonesia laksanakan, menurut data Kompas, Senin 19 Mei 2014 hal 5, Sultani dan Toto menulis bahwa hampir sembilan puluh persen anggota Dewan yang baru saja terpilih bertaraf pendidikan strata 1 dan 2. Ada secercah harapan bahwa kelak para wakil rakyat yang baru terpilih ini akan berdiskusi dengan berbagai sudut pandang sesuai dengan bidang ilmu mereka, dan karena bidang ilmu mereka beraneka ragam, maka mereka semua akan saling melengkapi, sehingga diharapkan akan diperoleh produk undang-undang yang mewadahi segenap lapisan masyarakat.

Lain halnya dengan Pemilu Eksekutif (pilpres), dalam peraturan yang diterbitkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), salah satu persyaratan yang diwajibkan untuk mengajukan diri sebagai presiden dan wakil presiden RI adalah WNI dengan minimal pendidikan SLTA. Terasa ganjil membaca salah satu persyaratan ini, karena untuk menjadi seorang pegawai negeri atau karyawan  swasta dengan posisi "agak tinggi" saja diperlukan calon pegawai dengan taraf pendidikan strata 1, dan untuk level manajer, lebih dicari mereka yang berpendidikan strata 2, sedangkan KPU mensyaratkan seorang lulusan SLTA untuk memikirkan arah dan tujuan bangsa sebesar bangsa Indonesia.Apakah ini masuk akal? Universitas-universitas di negara kita baik yang negeri maupun swasta setiap tahunnya melahirkan puluhan ribu sarjana baru maupun lulusan pascasarjana, tetapi mengapa seakan sulit mencari presiden yang memiliki gelar kesarjanaan?

Hal tersebut tentu bertentangan dengan program pencerdasan bangsa, mereka yang lulusan SLTA merasa tidak perlu memiliki pendidikan tinggi, toh juga lulusan SLTA cukup untuk melamar menjadi presiden RI. Tentu hal ini melukai civitas akademika di setiap universitas di Indonesia. Kaum intelektual akan merasa bahwa kepintaran akademik yang mereka miliki tidak dihargai oleh negaranya sendiri.

Namun di sisi lain, di sini saya tidak ingin meng-underestimate mereka yang lulusan SLTA, belum tentu juga mereka yang berpendidikan tinggi mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa, karena kebanyakan mereka yang berpendidikan tinggi justru menggunakan kepintarannya untuk mengambil keuntungan bagi pribadi maupun partainya.

Lalu pemimpin yang tepat seperti apa?

Yang patut jadi pemimpin itu mereka yang memiliki kemampuan akademik, entah strata 1, 2 ataupun 3, tentunya gelar akademik tersebut benar-benar ditempuh sesuai dengan jalur resmi, bukan dengan berlaku curang dengan melakukan plagiarisme ataupun pembelian ijazah yang akhir-akhir ini marak terjadi. Selain bertaraf pendidikan tinggi, pemimpin juga harus memiliki hati yang bersih, jujur dan mulia. Semoga Indonesia mendapatkan pemimpin terbaiknya.... 
  

Sabtu, 19 April 2014

Misa Malam Paskah 2014 (Pribadi Yang Baik dan Pribadi Yang Tidak Baik)

Hari ini adalah hari Paskah.. 

Hari Paskah adalah hari kebangkitan Yesus Kristus setelah 3 hari Ia wafat karena disiksa dan pada akhirnya
disalibkan.
Sebagai orang Katolik, saya dan keluarga saya pergi merayakannya ekaristi malam Paskah di gereja.
Biasanya kami pergi ke gereja Kalvari, Pondok Gede. Namun karena kami ingin mencoba suasana misa di gereja lain, dan kebetulan gereja yang akan kami datangi, ekaristinya itu dipimpin oleh Bapak Uskup Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo. Singkat cerita berangkatlah kami dari rumah menuju gereja St. Katarina, TMII.

Misa dimulai jam 19.00, jam 18.40 kami datang dan melihat umat sudah mulai memenuhi bangku gereja. Dengan dibantu petugas tata tertib, kami mendapatkan tempat duduk di dalam gereja, kebetulan masih terdapat 4 baris yang kosong. Namun ketika kami masuk, ada beberapa Ibu yang sudah sepuh (baca : tua, bhs Jawa halus) yang tampaknya tidak terlalu welcome dengan kedatangan kami. Ah, biar saja yang penting kami tetap sopan, begitu pikir saya.  

Saya memiliki dua anak, Kania dan Arsen, cowok dan cewek, yang Kania usianya 3 tahun kurang 1 bulan, sedangkan Arsen usianya 1 tahun kurang 2 bulan. Awal kami datang di gereja, mereka tenang, malahan Arsen dalam posisi tidur. Tidak lama kemudian, setelah mereka adaptasi dengan situasi dan kondisi yang ada, Kania mulai bertanya kepada saya mengenai neon box yang ada di dalam gereja, neon box itu berjumlah empat belas dan memang benar-benar eye catching bagi anak saya, Kania, ya deretan neon box itu adalah prosesi Jalan Salib. Saya pun dengan senang menjelaskan kepada Kania yang sedang dalam usia emasnya selalu ingin tahu keadaaan sekitarnya. Namanya anak-anak, dia tidak hanya sekedar bertanya mengenai hal itu, mulailah dia bercerita tentang hal ini dan hal itu yang semua berasal dari imajinasinya dan pengalaman di sekolahnya. Saya mulai mendengar gerutu Ibu sepuh di belakang kami, mungkin ia terganggu dengan kegaduhan yang dibuat Kania. Namanya anak-anak, sistem tubuhnya masih belum bisa ditebak, Kania pun pup di gereja, karena dia pakai baby diapers, saya suruh dia lanjutkan pup-nya, nanti tinggal dibuang baby diapers-nya sambil dibersihkan di toilet. Tanpa diduga, saya dapati sikap yang sungguh tidak menggambarkan seorang yang baik, Ibu sepuh itu menutup hidungnya dengan buku panduan yang ia pegang, padahal tercium pun tidak bau feses Kania. Ditambah lagi sikap tidak sopannya itu ia tunjukkan ketika ia duduk dan menyilangkan kakinya, entah disengaja atau tidak, kakinya mendorong kursi yang saya duduki, sehingga kursi itu terasa mulai maju dan membuat tempat berdiri saya menjadi sempit dan akhirnya saya terdorong oleh kursi saya yang didorong oleh kakinya, untun saja si Bapak yang mengingatkan bahwa kakinya itu telah mendorong kursi saya.

Di dalam misa malam Paskah, ada tradisi penyalaan lilin Paskah, Kania dan Arsen senang dengan suasana malam di dalam gereja yang lampunya dipadamkan semua, dan hanya diterangi oleh lilin-lilin umat yang menyala. Saking riangnya, dia bersuara dan sekali lagi mungkin suaranya ini mengganggu si Ibu itu lagi. Hal itu terjadi sepanjang misa, gerutu dan omelan lirih yang saya dengar lama-lama membuat saya kesal, dan sempat saya berfikir, apa orang ini tidak dianugerahi anak ya? makanya dia tidak bisa menerima hal wajar yang dilakukan anak kecil. Sampai ketika Kania mau mengajak toss dengan suami dari Ibu ini, Ibu ini melirik sinis, dan sudah barang tentu itu membuat kekesalan saya memuncak, saya pun balas memelototi dia, hampir saja saya mau berucap "ini hanya sikap anak-anak yang wajar, sikap ada sebagai orang dewasa sungguh tidak tepat, dan kalau boleh saya jujur, saya lebih terganggu dengan batuk berdahak anda". Tapi syukurlah saya masih bisa menahan emosi saya. 

Tuhan meredakan emosi saya dengan menghadirkan pribadi-pribadi yang baik yang duduk di sekitar tempat duduk saya tadi malam. Dua orang Ibu sepuh mengajak Arsen bermain tiup lilin, dan seorang Ibu sepuh lain mengajak Kania menerima berkat dari Uskup ketika komuni dilaksanakan, selain itu anak muda di samping kananku mengajak Kania bersenda gurau, dan terakhir ketika misa sudah usai, seorang Ibu di depan tempat duduk kami menanyai Kania dan akhirnya Kania mulai bercerita tentang adiknya dan sekolahnya sendiri. 

Pelajaran yang kudapati tadi malam, tidak semua orang itu baik, bahkan tidak semua orang Katolik itu baik. Selalu saja ada orang yang tidak baik di kehidupan kita, namun percayalah jumlah orang baik lebih banyak. Tinggal pilihan kita, mana yang mau kita ikuti menjadi orang baik atau menjadi orang yang tidak baik dengan kepribadian yang tidak menyenangkan seperti Ibu tua yang sedari tadi saya ceritakan..

Inilah kesan Paskah saya di 2014, Selamat Paskah saudaraku, semoga kita diperbarui Tuhan Yesus yang bangkit dari mati untuk menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya....Berkah Dalem. 

Kamis, 03 April 2014

Airport Tax Yang Mencekik

Airport Tax Yang Mencekik


Pada tahun 2013 yang lalu ada beberapa bandara yang tampak sedang berbenah untuk mempercantik diri dengan merenovasi atau membangun infrastruktur bandaranya. Pembangunan yang dimaksud adalah pembangunan bandara secara fisik, ada yang menambah fasilitas baru, merenovasi yang sudah ada, atau bahkan membangun bandara baru seperti halnya bandara Kualanamu, Medan.

Secara penampilan tentu bandara yang sudah menata dirinya itu tampil menjadi bandara yang lebih gagah, mewah, dan juga anggun secara fisik, Namun bagaimana dengan kualitas manajemennya?

Di awal April tahun 2014 ini, PT. Angkasa Pura menaikkan tarif pajak bandara atau yang lebih dikenal dengan istilah airport tax. Dari yang semula di kisaran Rp.40.000,- naik menjadi Rp.75.000,-. Kenaikannya luar biasa, nyaris 100%. Jumlah yang cukup fantastis, di saat maskapai berlomba memberikan tiket murah kepada para calon penumpangnya, pihak bandara justru membebani penumpang pesawat dengan pajak bandara yang tinggi. Alasan pihak bandara menaikkan airport tax adalah untuk mengganti biaya investasi yang sudah dikeluarkan pihak Angkasa Pura. Apakah demikian langkah yang harus ditempuh? 

Bandara memiliki beberapa sumber pendapatan. Dari bermacam-macam pendapatan tersebut, dikelompokkan menjadi dua kelompok pendapatan, pertama adalah pendapatan yang berasal dari penerbangan, dan yang kedua adalah pendapatan yang berasal dari non penerbangan. Jika berbicara pendapatan penerbangan, maka selalu ada nilai surplus di sana, sebab mulai dari pesawat masuk pengawasan tower suatu bandara, penggunaan landasan, berjalan di taxiway, ground handilng hingga parkir, semuanya dikenai biaya oleh bandara, itulah yang disebut dengan pendapatan penerbangan. Sedangkan pendapatan non penerbangan meliputi penyewaan ruang untuk counter maskapai, penyewaan ruang untuk counter pengusaha jasa atau barang dagangan, penyewaan ruang untuk reklame, parkir kendaraan penumpang/pengantar, sewa ATM, dan masih banyak lagi yang sifatnya pendapatan non penerbangan.  

Tahun lalu, masih digunakan sistem gabungan antara divisi aeronautika/penerbangan dengan divisi non aeronautika/non penerbangan, namun sejak tahun 2013 akhir sudah dipisahkan antara kedua divisi tersebut. Dengan sumber pendapatan yang digabung, pada akhirnya akan terjadi penilaian prestasi yang sama. Ya, kepada divisi pendapatan akan muncul satu penilaian saja. Seiring dengan dipisahkannya divisi pendapatan, menjadi pendapatan penerbangan dan pendapatan non penerbangan, maka penilaian akan prestasi pun menjadi dua penilaian, penilaian prestasi untuk divisi penerbangan dan penilaian untuk divisi non penerbangan. Seperti penulis kemukakan di atas bahwa dari segi penerbangan, tidak masalah untuk memberikan kontribusi yang positif kepada perusahaan, terlebih jika bandara tersebut melayani rute-rute internasional, karena jika bandara melayani penerbangan internasional, tarif yang mereka berlakukan lebih tinggi jika dibandingkan dengan melayani penerbangan domestik. 

Lalu bagaimana dengan divisi non penerbangan?

Divisi non penerbangan tentu juga diberi target oleh manajemen untuk mengumpulkan pendapatan dalam jumlah tertentu setiap tahunnya melalui Rencana Kerja dan Anggaran yang mereka susun setiap tahun. Mungkin saja kenaikan airport tax yang saat ini terjadi merupakan salah akibat dari perubahan sistem manajemen pendapatan bandara. Karena divisi penerbangan dan non penerbangan dipisah, dan setiap divisi diminta untuk memberikan kontribusi yang baik kepada perusahaan, maka diambillah kebijakan menaikkan tarif airport tax. 

Menurut penulis, kebijakan tersebut kurang tepat dan amat disayangkan. Di saat negara kita sedang bergeliat untuk membangun, di saat setiap daerah berlomba-lomba untuk menonjolkan kelebihan-kelebihan daerahnya dengan pariwisata terbaik yang dimilikinya, pihak Angkasa Pura justru menaikkan tarif airport tax yang sungguh tidak sejalan dengan program pemerintah. Semestinya bukan jalan menaikkan airport tax yang harus ditempuh, alih-alih untuk mengembalikan biaya investasi yang sudah dikeluarkan bandara, masih banyak jalan lain yang dapat ditempuh, apalagi investasi merupakan biaya yang tidak serta merta secepat kilat dapat dikembalikan kepada manejemen pusat, melainkan dilakukan secara bertahap dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Jika alasan lain adalah karena terget yang harus dikejar oleh divisi non penerbangan, toh juga kebijakan pemberlakuan perhitungan sewa ruang yang dilakukan bandara sudah cukup menekan para pelaku usaha di sekitar bandara, artinya pendapatan yang diterima bandara juga sudah cukup besar dari segi penyewaan ruang. Sebagai ilustrasi untuk pembaca, jika pembaca menyewa ruangan di bandara untuk melakukan usaha, maka akan dihitung berapa biaya sewa per meternya, untuk dikalikan dengan luas ruangan tersebut, setelah itu selama pelaku usaha memperoleh omzet, maka pihak bandara akan mengenakan conssetion fee dari omzet yang pelaku usaha terima. Selain itu pengenaan tarif parkir berdasarkan sistem progresif tentunya dapat menolong untuk mencapai target yang ditetapkan. Selain itu yang utama dan pertama adalah mengenai penetapan rencana kerja dan anggaran, semestinya lebih memikirkan kondisi riil di lapangan, tidak hanya sekedar di angan-angan belaka, selain itu jangan hanya memikirkan bagaimana caranya memperoleh pendapatan sebesar-besarnya, namun hendaknya juga dipikirkan bagaimana menekan pengeluaran/biaya-biaya, terutama biaya operasional. Tidak semestinya bandara yang merugi diberikan bonus yang sama dengan bandara yang memiliki prestasi baik.

Semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi kita semua, khususnya pihak manajemen Angkasa Pura...

Jumat, 20 September 2013

Memaknai Kecerdasan



Memaknai Kecerdasan
Cerdas !

Seringkali kita mendengar seseorang memuji orang lain dengan ungkapan seperti itu. Biasanya pujian tersebut terlontar ketika seseorang menyampaikan ide yang cemerlang, gagasan yang unik dan menarik, ataupun jalan keluar dari suatu permasalahan yang dihadapinya. Ya, memang kecerdasan cenderung dikaitkan dengan kemampuan olah otak sehingga melahirkan pemikiran-pemikiran yang hebat. Tapi benarkah bahwa kecerdasan hanya semata-mata seperti itu?
Penulis berpendapat bahwa ada beberapa macam kecerdasan yang dapat dimiliki oleh setiap manusia, antara lain : kecerdasaan intelektual, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, kecerdasan finansial, dan kecerdasan etika. Baiklah, akan kita ulas satu per satu.

Kecerdasan Intelektual

Kecerdasan ini seperti yang telah penulis paparkan pada pengantar di atas. Kecerdasan ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor bawaan dari gen orang tua. Orang yang memiliki kecerdasan ini akan mudah jika diberi pengarahan atau materi apapun, mereka akan mudah menerima apa saja yang disampaikan oleh pemberi materi. Selain mampu dengan baik menerima setiap penyampaian materi, orang-orang yang memiliki kecerdasan ini juga mampu berbicara dengan bahasa yang tertata dan mudah dipahami, mampu menganalisis masalah hingga mencari jalan keluar, serta menemukan dan mengemukakan ide-ide baru, baik ide yang bersifat ilmiah, sosial maupun seni. Kecerdasan ini dapat diukur dengan melakukan beberapa tes intelenjensi dan potensi akademik, dan tes tersebut sudah amat sering kita jumpai.

Kecerdasan Emosi

Orang yang memiliki ataupun tidak memiliki kecerdasan emosi dapat dengan mudah kita jumpai. Dengan melihat di sekeliling kita, kita dapat langsung menilai apakah seseorang tersebut memiliki kecerdasan emosi atau tidak. Sebagai contoh, kasus tawuran yang dewasa ini marak terjadi, baik tawuran yang terjadi antarpelajar hingga tawuran yang terjadi antarwarga. Jelas hal itu menunjukkan bahwa mereka yang terlibat tawuran tidak memiliki kecerdasan emosi. Kita semakin dibuat miris manakala pelakunya adalah mahasiswa, yang mana kaum mahasiswa sering disebut sebagai kaum cendekiawan, kaum yang memiliki kecerdasan intelektual yang baik, namun ternyata mereka tidak memiliki kecerdasan emosi yang baik.      

 
Kecerdasan Spiritual
Para pemuka agama dan alim ulama tentu diwajibkan memiliki kecerdasan seperti ini, karena mereka adalah teladan bagi masyarakat. Kecerdasan ini membutuhkan suatu pemahaman yang mendasar tentang bagaimana mengilhami dan mengimani Yang Maha Kuasa. Kedekatan dengan yang Maha Kuasa juga harus didukung dengan perilaku yang baik terhadap sesama dan lingkungan sekitar. Sehingga kalau kita mau melihat di sekitar tempat tinggal kita, jika ada yang mengaku-aku dirinya adalah seorang yang taat beragama namun perbuatannya jauh dari kesan kasih sayang terhadap sesama dan lingkungan, dapat dikatakan orang itu tidak cerdas secara spiritual.

Kecerdasan Finansial

Orang yang memiliki penghasilan yang besar belum tentu cerdas secara finansial. Meskipun penghasilannya besar jika tidak didukung dengan manajemen keuangan yang baik, maka yang terjadi adalah seperti kata pepatah “besar pasak daripada tiang”. Orang yang berpenghasilan pas-pasan jika memang pengelolaan keuangannya baik, dan ternyata ia masih bisa menyisihkan penghasilannya untuk ditabung atau diinvestasikan, maka orang tersebut yang layak disebut sebagai orang yang memiliki kecerdasan finansial.

Kecerdasan Etika

Kecerdasan ini erat kaitannya dengan tata hidup dalam masyarakat. Bagaimana kita berinteraksi dengan tetangga dan masyarakat sekitar, berbicara santun, berpakaian yang pantas sesuai dengan waktu dan tempat, dan masih banyak yang lain. Jika suatu saat kita melihat orang dari dalam mobil membuang sampah tidak pada tempatnya, sementara kita lihat status sosialnya (dari mobilnya dan juga dari penampilannya) sepertinya ia kaum elit, maka dapat dikatakan ia cerdas secara intelektual dan finasial, tetapi tidak secara etika. Atau jika anda temui orang yang tidak mau mengantri untuk mendapatkan layanan kasir di supermarket (bukan karena keadaan emergency), dapat kita katakan  bahwa ia tidak cerdas secara etika.

Setelah melihat beberapa macam kecerdasan di atas, tentu timbul pemikiran tentang mana kecerdasan yang terpenting yang harus dimiliki setiap manusia. Dibutuhkan skala untuk menentukan prioritas kecerdasan, dan setiap orang yang menilai pun pasti memiliki pendapat yang berbeda-beda.  Hal itu wajar dan memang tidak dapat ditentukan mana yang semestinya menjadi pertama dan utama, yang terpenting kita yang diberi akal budi oleh Yang Kuasa untuk menentukan kehidupan ini dapat memiliki makna bagi sesama dan lingkungan, serta tetap menjaga kemesraan hubungan kita dengan Tuhan. **

Oleh : Antonius Himawan Yudha,S.E.MM.

 

Selasa, 27 Maret 2012

KANIA HOUSE OF BAGS

Pada tanggal 26 Feb 2012 yang lalu, akhirnya dengan semangat yang mantap aku dan istriku membuka toko tas. Tas-tas yang kami jual mulai dari merek LV, Gucci, Prada, dll, pokoknya tas-tas merek internasional. Dengan menyewa sebuah kios di daerah pasar Oebobo kami yakin bahwa tas-tas yang kami jual akan cepat laku, ya.. karena di daerah tersebut termasuk daerah padat dan berada di daerah kota. Segala ilmu yang kuperoleh di bangku kuliah pasca sarjana manajemen, ku praktekkan dalam usaha kami ini. Memang sangat membantu teori-teori tersebut. Mulai dari teori pemasaran, keuangan, kualitas mutu produk, dll. Malahan segala yang kuperoleh tersebut terasa langsung mengena karena langsung bisa kupraktekkan. Untuk sebulan kami berjualan ini, keuntungan yang kami peroleh lumayan, omzet kami sampai 3 juta. Dari jumlah tersebut, untuk membayar gaji 2 orang karyawan dan untuk membayar biaya sewa serta biaya listrik masih ada kelebihan, Puji Tuhan semua terasa mudah kami lalui tanpa ada masalah sedikitpun. Ini semua berkat doa dan kerja keras yang ikhlas kami lakukan, terutama berkat terkabulnya doa Novena Tiga Salam Maria.. Semoga ke depan butik Kania ini semakin dikenal masyarakat Kupang pada khususnya dan masyarakat NTT pada umumnya, sehingga niat kami untuk memenuhi kebutuhan pasar akan keberadaan tas-tas bermerek dapat tercapai.. amin.