Sabtu, 19 April 2014

Misa Malam Paskah 2014 (Pribadi Yang Baik dan Pribadi Yang Tidak Baik)

Hari ini adalah hari Paskah.. 

Hari Paskah adalah hari kebangkitan Yesus Kristus setelah 3 hari Ia wafat karena disiksa dan pada akhirnya
disalibkan.
Sebagai orang Katolik, saya dan keluarga saya pergi merayakannya ekaristi malam Paskah di gereja.
Biasanya kami pergi ke gereja Kalvari, Pondok Gede. Namun karena kami ingin mencoba suasana misa di gereja lain, dan kebetulan gereja yang akan kami datangi, ekaristinya itu dipimpin oleh Bapak Uskup Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo. Singkat cerita berangkatlah kami dari rumah menuju gereja St. Katarina, TMII.

Misa dimulai jam 19.00, jam 18.40 kami datang dan melihat umat sudah mulai memenuhi bangku gereja. Dengan dibantu petugas tata tertib, kami mendapatkan tempat duduk di dalam gereja, kebetulan masih terdapat 4 baris yang kosong. Namun ketika kami masuk, ada beberapa Ibu yang sudah sepuh (baca : tua, bhs Jawa halus) yang tampaknya tidak terlalu welcome dengan kedatangan kami. Ah, biar saja yang penting kami tetap sopan, begitu pikir saya.  

Saya memiliki dua anak, Kania dan Arsen, cowok dan cewek, yang Kania usianya 3 tahun kurang 1 bulan, sedangkan Arsen usianya 1 tahun kurang 2 bulan. Awal kami datang di gereja, mereka tenang, malahan Arsen dalam posisi tidur. Tidak lama kemudian, setelah mereka adaptasi dengan situasi dan kondisi yang ada, Kania mulai bertanya kepada saya mengenai neon box yang ada di dalam gereja, neon box itu berjumlah empat belas dan memang benar-benar eye catching bagi anak saya, Kania, ya deretan neon box itu adalah prosesi Jalan Salib. Saya pun dengan senang menjelaskan kepada Kania yang sedang dalam usia emasnya selalu ingin tahu keadaaan sekitarnya. Namanya anak-anak, dia tidak hanya sekedar bertanya mengenai hal itu, mulailah dia bercerita tentang hal ini dan hal itu yang semua berasal dari imajinasinya dan pengalaman di sekolahnya. Saya mulai mendengar gerutu Ibu sepuh di belakang kami, mungkin ia terganggu dengan kegaduhan yang dibuat Kania. Namanya anak-anak, sistem tubuhnya masih belum bisa ditebak, Kania pun pup di gereja, karena dia pakai baby diapers, saya suruh dia lanjutkan pup-nya, nanti tinggal dibuang baby diapers-nya sambil dibersihkan di toilet. Tanpa diduga, saya dapati sikap yang sungguh tidak menggambarkan seorang yang baik, Ibu sepuh itu menutup hidungnya dengan buku panduan yang ia pegang, padahal tercium pun tidak bau feses Kania. Ditambah lagi sikap tidak sopannya itu ia tunjukkan ketika ia duduk dan menyilangkan kakinya, entah disengaja atau tidak, kakinya mendorong kursi yang saya duduki, sehingga kursi itu terasa mulai maju dan membuat tempat berdiri saya menjadi sempit dan akhirnya saya terdorong oleh kursi saya yang didorong oleh kakinya, untun saja si Bapak yang mengingatkan bahwa kakinya itu telah mendorong kursi saya.

Di dalam misa malam Paskah, ada tradisi penyalaan lilin Paskah, Kania dan Arsen senang dengan suasana malam di dalam gereja yang lampunya dipadamkan semua, dan hanya diterangi oleh lilin-lilin umat yang menyala. Saking riangnya, dia bersuara dan sekali lagi mungkin suaranya ini mengganggu si Ibu itu lagi. Hal itu terjadi sepanjang misa, gerutu dan omelan lirih yang saya dengar lama-lama membuat saya kesal, dan sempat saya berfikir, apa orang ini tidak dianugerahi anak ya? makanya dia tidak bisa menerima hal wajar yang dilakukan anak kecil. Sampai ketika Kania mau mengajak toss dengan suami dari Ibu ini, Ibu ini melirik sinis, dan sudah barang tentu itu membuat kekesalan saya memuncak, saya pun balas memelototi dia, hampir saja saya mau berucap "ini hanya sikap anak-anak yang wajar, sikap ada sebagai orang dewasa sungguh tidak tepat, dan kalau boleh saya jujur, saya lebih terganggu dengan batuk berdahak anda". Tapi syukurlah saya masih bisa menahan emosi saya. 

Tuhan meredakan emosi saya dengan menghadirkan pribadi-pribadi yang baik yang duduk di sekitar tempat duduk saya tadi malam. Dua orang Ibu sepuh mengajak Arsen bermain tiup lilin, dan seorang Ibu sepuh lain mengajak Kania menerima berkat dari Uskup ketika komuni dilaksanakan, selain itu anak muda di samping kananku mengajak Kania bersenda gurau, dan terakhir ketika misa sudah usai, seorang Ibu di depan tempat duduk kami menanyai Kania dan akhirnya Kania mulai bercerita tentang adiknya dan sekolahnya sendiri. 

Pelajaran yang kudapati tadi malam, tidak semua orang itu baik, bahkan tidak semua orang Katolik itu baik. Selalu saja ada orang yang tidak baik di kehidupan kita, namun percayalah jumlah orang baik lebih banyak. Tinggal pilihan kita, mana yang mau kita ikuti menjadi orang baik atau menjadi orang yang tidak baik dengan kepribadian yang tidak menyenangkan seperti Ibu tua yang sedari tadi saya ceritakan..

Inilah kesan Paskah saya di 2014, Selamat Paskah saudaraku, semoga kita diperbarui Tuhan Yesus yang bangkit dari mati untuk menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya....Berkah Dalem. 

Kamis, 03 April 2014

Airport Tax Yang Mencekik

Airport Tax Yang Mencekik


Pada tahun 2013 yang lalu ada beberapa bandara yang tampak sedang berbenah untuk mempercantik diri dengan merenovasi atau membangun infrastruktur bandaranya. Pembangunan yang dimaksud adalah pembangunan bandara secara fisik, ada yang menambah fasilitas baru, merenovasi yang sudah ada, atau bahkan membangun bandara baru seperti halnya bandara Kualanamu, Medan.

Secara penampilan tentu bandara yang sudah menata dirinya itu tampil menjadi bandara yang lebih gagah, mewah, dan juga anggun secara fisik, Namun bagaimana dengan kualitas manajemennya?

Di awal April tahun 2014 ini, PT. Angkasa Pura menaikkan tarif pajak bandara atau yang lebih dikenal dengan istilah airport tax. Dari yang semula di kisaran Rp.40.000,- naik menjadi Rp.75.000,-. Kenaikannya luar biasa, nyaris 100%. Jumlah yang cukup fantastis, di saat maskapai berlomba memberikan tiket murah kepada para calon penumpangnya, pihak bandara justru membebani penumpang pesawat dengan pajak bandara yang tinggi. Alasan pihak bandara menaikkan airport tax adalah untuk mengganti biaya investasi yang sudah dikeluarkan pihak Angkasa Pura. Apakah demikian langkah yang harus ditempuh? 

Bandara memiliki beberapa sumber pendapatan. Dari bermacam-macam pendapatan tersebut, dikelompokkan menjadi dua kelompok pendapatan, pertama adalah pendapatan yang berasal dari penerbangan, dan yang kedua adalah pendapatan yang berasal dari non penerbangan. Jika berbicara pendapatan penerbangan, maka selalu ada nilai surplus di sana, sebab mulai dari pesawat masuk pengawasan tower suatu bandara, penggunaan landasan, berjalan di taxiway, ground handilng hingga parkir, semuanya dikenai biaya oleh bandara, itulah yang disebut dengan pendapatan penerbangan. Sedangkan pendapatan non penerbangan meliputi penyewaan ruang untuk counter maskapai, penyewaan ruang untuk counter pengusaha jasa atau barang dagangan, penyewaan ruang untuk reklame, parkir kendaraan penumpang/pengantar, sewa ATM, dan masih banyak lagi yang sifatnya pendapatan non penerbangan.  

Tahun lalu, masih digunakan sistem gabungan antara divisi aeronautika/penerbangan dengan divisi non aeronautika/non penerbangan, namun sejak tahun 2013 akhir sudah dipisahkan antara kedua divisi tersebut. Dengan sumber pendapatan yang digabung, pada akhirnya akan terjadi penilaian prestasi yang sama. Ya, kepada divisi pendapatan akan muncul satu penilaian saja. Seiring dengan dipisahkannya divisi pendapatan, menjadi pendapatan penerbangan dan pendapatan non penerbangan, maka penilaian akan prestasi pun menjadi dua penilaian, penilaian prestasi untuk divisi penerbangan dan penilaian untuk divisi non penerbangan. Seperti penulis kemukakan di atas bahwa dari segi penerbangan, tidak masalah untuk memberikan kontribusi yang positif kepada perusahaan, terlebih jika bandara tersebut melayani rute-rute internasional, karena jika bandara melayani penerbangan internasional, tarif yang mereka berlakukan lebih tinggi jika dibandingkan dengan melayani penerbangan domestik. 

Lalu bagaimana dengan divisi non penerbangan?

Divisi non penerbangan tentu juga diberi target oleh manajemen untuk mengumpulkan pendapatan dalam jumlah tertentu setiap tahunnya melalui Rencana Kerja dan Anggaran yang mereka susun setiap tahun. Mungkin saja kenaikan airport tax yang saat ini terjadi merupakan salah akibat dari perubahan sistem manajemen pendapatan bandara. Karena divisi penerbangan dan non penerbangan dipisah, dan setiap divisi diminta untuk memberikan kontribusi yang baik kepada perusahaan, maka diambillah kebijakan menaikkan tarif airport tax

Menurut penulis, kebijakan tersebut kurang tepat dan amat disayangkan. Di saat negara kita sedang bergeliat untuk membangun, di saat setiap daerah berlomba-lomba untuk menonjolkan kelebihan-kelebihan daerahnya dengan pariwisata terbaik yang dimilikinya, pihak Angkasa Pura justru menaikkan tarif airport tax yang sungguh tidak sejalan dengan program pemerintah. Semestinya bukan jalan menaikkan airport tax yang harus ditempuh, alih-alih untuk mengembalikan biaya investasi yang sudah dikeluarkan bandara, masih banyak jalan lain yang dapat ditempuh, apalagi investasi merupakan biaya yang tidak serta merta secepat kilat dapat dikembalikan kepada manejemen pusat, melainkan dilakukan secara bertahap dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Jika alasan lain adalah karena terget yang harus dikejar oleh divisi non penerbangan, toh juga kebijakan pemberlakuan perhitungan sewa ruang yang dilakukan bandara sudah cukup menekan para pelaku usaha di sekitar bandara, artinya pendapatan yang diterima bandara juga sudah cukup besar dari segi penyewaan ruang. Sebagai ilustrasi untuk pembaca, jika pembaca menyewa ruangan di bandara untuk melakukan usaha, maka akan dihitung berapa biaya sewa per meternya, untuk dikalikan dengan luas ruangan tersebut, setelah itu selama pelaku usaha memperoleh omzet, maka pihak bandara akan mengenakan conssetion fee dari omzet yang pelaku usaha terima. Selain itu pengenaan tarif parkir berdasarkan sistem progresif tentunya dapat menolong untuk mencapai target yang ditetapkan. Selain itu yang utama dan pertama adalah mengenai penetapan rencana kerja dan anggaran, semestinya lebih memikirkan kondisi riil di lapangan, tidak hanya sekedar di angan-angan belaka, selain itu jangan hanya memikirkan bagaimana caranya memperoleh pendapatan sebesar-besarnya, namun hendaknya juga dipikirkan bagaimana menekan pengeluaran/biaya-biaya, terutama biaya operasional. Tidak semestinya bandara yang merugi diberikan bonus yang sama dengan bandara yang memiliki prestasi baik.

Semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi kita semua, khususnya pihak manajemen Angkasa Pura...

Jumat, 20 September 2013

Memaknai Kecerdasan



Memaknai Kecerdasan
Cerdas !

Seringkali kita mendengar seseorang memuji orang lain dengan ungkapan seperti itu. Biasanya pujian tersebut terlontar ketika seseorang menyampaikan ide yang cemerlang, gagasan yang unik dan menarik, ataupun jalan keluar dari suatu permasalahan yang dihadapinya. Ya, memang kecerdasan cenderung dikaitkan dengan kemampuan olah otak sehingga melahirkan pemikiran-pemikiran yang hebat. Tapi benarkah bahwa kecerdasan hanya semata-mata seperti itu?
Penulis berpendapat bahwa ada beberapa macam kecerdasan yang dapat dimiliki oleh setiap manusia, antara lain : kecerdasaan intelektual, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, kecerdasan finansial, dan kecerdasan etika. Baiklah, akan kita ulas satu per satu.

Kecerdasan Intelektual

Kecerdasan ini seperti yang telah penulis paparkan pada pengantar di atas. Kecerdasan ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor bawaan dari gen orang tua. Orang yang memiliki kecerdasan ini akan mudah jika diberi pengarahan atau materi apapun, mereka akan mudah menerima apa saja yang disampaikan oleh pemberi materi. Selain mampu dengan baik menerima setiap penyampaian materi, orang-orang yang memiliki kecerdasan ini juga mampu berbicara dengan bahasa yang tertata dan mudah dipahami, mampu menganalisis masalah hingga mencari jalan keluar, serta menemukan dan mengemukakan ide-ide baru, baik ide yang bersifat ilmiah, sosial maupun seni. Kecerdasan ini dapat diukur dengan melakukan beberapa tes intelenjensi dan potensi akademik, dan tes tersebut sudah amat sering kita jumpai.

Kecerdasan Emosi

Orang yang memiliki ataupun tidak memiliki kecerdasan emosi dapat dengan mudah kita jumpai. Dengan melihat di sekeliling kita, kita dapat langsung menilai apakah seseorang tersebut memiliki kecerdasan emosi atau tidak. Sebagai contoh, kasus tawuran yang dewasa ini marak terjadi, baik tawuran yang terjadi antarpelajar hingga tawuran yang terjadi antarwarga. Jelas hal itu menunjukkan bahwa mereka yang terlibat tawuran tidak memiliki kecerdasan emosi. Kita semakin dibuat miris manakala pelakunya adalah mahasiswa, yang mana kaum mahasiswa sering disebut sebagai kaum cendekiawan, kaum yang memiliki kecerdasan intelektual yang baik, namun ternyata mereka tidak memiliki kecerdasan emosi yang baik.      

 
Kecerdasan Spiritual
Para pemuka agama dan alim ulama tentu diwajibkan memiliki kecerdasan seperti ini, karena mereka adalah teladan bagi masyarakat. Kecerdasan ini membutuhkan suatu pemahaman yang mendasar tentang bagaimana mengilhami dan mengimani Yang Maha Kuasa. Kedekatan dengan yang Maha Kuasa juga harus didukung dengan perilaku yang baik terhadap sesama dan lingkungan sekitar. Sehingga kalau kita mau melihat di sekitar tempat tinggal kita, jika ada yang mengaku-aku dirinya adalah seorang yang taat beragama namun perbuatannya jauh dari kesan kasih sayang terhadap sesama dan lingkungan, dapat dikatakan orang itu tidak cerdas secara spiritual.

Kecerdasan Finansial

Orang yang memiliki penghasilan yang besar belum tentu cerdas secara finansial. Meskipun penghasilannya besar jika tidak didukung dengan manajemen keuangan yang baik, maka yang terjadi adalah seperti kata pepatah “besar pasak daripada tiang”. Orang yang berpenghasilan pas-pasan jika memang pengelolaan keuangannya baik, dan ternyata ia masih bisa menyisihkan penghasilannya untuk ditabung atau diinvestasikan, maka orang tersebut yang layak disebut sebagai orang yang memiliki kecerdasan finansial.

Kecerdasan Etika

Kecerdasan ini erat kaitannya dengan tata hidup dalam masyarakat. Bagaimana kita berinteraksi dengan tetangga dan masyarakat sekitar, berbicara santun, berpakaian yang pantas sesuai dengan waktu dan tempat, dan masih banyak yang lain. Jika suatu saat kita melihat orang dari dalam mobil membuang sampah tidak pada tempatnya, sementara kita lihat status sosialnya (dari mobilnya dan juga dari penampilannya) sepertinya ia kaum elit, maka dapat dikatakan ia cerdas secara intelektual dan finasial, tetapi tidak secara etika. Atau jika anda temui orang yang tidak mau mengantri untuk mendapatkan layanan kasir di supermarket (bukan karena keadaan emergency), dapat kita katakan  bahwa ia tidak cerdas secara etika.

Setelah melihat beberapa macam kecerdasan di atas, tentu timbul pemikiran tentang mana kecerdasan yang terpenting yang harus dimiliki setiap manusia. Dibutuhkan skala untuk menentukan prioritas kecerdasan, dan setiap orang yang menilai pun pasti memiliki pendapat yang berbeda-beda.  Hal itu wajar dan memang tidak dapat ditentukan mana yang semestinya menjadi pertama dan utama, yang terpenting kita yang diberi akal budi oleh Yang Kuasa untuk menentukan kehidupan ini dapat memiliki makna bagi sesama dan lingkungan, serta tetap menjaga kemesraan hubungan kita dengan Tuhan. **

Oleh : Antonius Himawan Yudha,S.E.MM.

 

Selasa, 27 Maret 2012

KANIA HOUSE OF BAGS

Pada tanggal 26 Feb 2012 yang lalu, akhirnya dengan semangat yang mantap aku dan istriku membuka toko tas. Tas-tas yang kami jual mulai dari merek LV, Gucci, Prada, dll, pokoknya tas-tas merek internasional. Dengan menyewa sebuah kios di daerah pasar Oebobo kami yakin bahwa tas-tas yang kami jual akan cepat laku, ya.. karena di daerah tersebut termasuk daerah padat dan berada di daerah kota. Segala ilmu yang kuperoleh di bangku kuliah pasca sarjana manajemen, ku praktekkan dalam usaha kami ini. Memang sangat membantu teori-teori tersebut. Mulai dari teori pemasaran, keuangan, kualitas mutu produk, dll. Malahan segala yang kuperoleh tersebut terasa langsung mengena karena langsung bisa kupraktekkan. Untuk sebulan kami berjualan ini, keuntungan yang kami peroleh lumayan, omzet kami sampai 3 juta. Dari jumlah tersebut, untuk membayar gaji 2 orang karyawan dan untuk membayar biaya sewa serta biaya listrik masih ada kelebihan, Puji Tuhan semua terasa mudah kami lalui tanpa ada masalah sedikitpun. Ini semua berkat doa dan kerja keras yang ikhlas kami lakukan, terutama berkat terkabulnya doa Novena Tiga Salam Maria.. Semoga ke depan butik Kania ini semakin dikenal masyarakat Kupang pada khususnya dan masyarakat NTT pada umumnya, sehingga niat kami untuk memenuhi kebutuhan pasar akan keberadaan tas-tas bermerek dapat tercapai.. amin.

Senin, 13 Februari 2012

Cuaca ekstrem di lautan sekitar Kupang NTT

Cuaca ekstrem yang akhir-akhir ini melanda wilayah Kupang membuat harga-harga kebutuhan pokok melonjak naik, hal ini disebabkan oleh terlambatnya distribusi bahan-bahan pokok yang sebagian besar dikirim dari pulau Jawa. Harga ikan yang merupakan komoditas utama di NTT juga mengalami kenaikan, hal ini disebabkan para nelayan tidak berani melaut karena ombak yang mencapai ketinggian 8 meter. 

My New Terrano (second sih,, cuma baru punya nie) :-)

Kamis tanggal 10 Februari 2012 yang lalu, siang hari tepatnya, ketika saya pulang dari kantor untuk istirahat siang, saya melihat seorang laki-laki yang sudah saya kenal, ya, dia bernama Jimmy, anak buah dari rekanan bisnis saya, ambil tersenyum dia berjalan menghampiri saya yang baru saja turun dari mobil dinas saya, dia menyerahkan kunci mobil yang diparkir di bawah pohon di depan rumah saya, dan mobil itu adalah sebuah Nissan Terrano yang selam ini sudah saya impi-impikan.
Sebenarnya sih ga persis seperti yang saya impikan, kalau boleh jujur, terrano yang saya impi-impikan itu yang tipe Kingsroad, berwarna hitam dengan bemper depan dan ada gantungan ban serep di belakangnya. Sedangkan Terrano yang siang itu datang adalah terrano spirit tahun 2002, berwarna silver, yang tidak ada bemper dan ban serep di belakangnya. Kecewa sedikit memang, tapi apa mau dikata, sebenarnya mobil ini adalah hadiah dari rekanan bisnis. Tapi kalau mau dibilang hadiah juga agak lucu, karena sesungguhnya saya diminta membayar 100 juta dari total harga mobil 120 juta, yang 20 juta dia subsidi. Hadiah kok suruh bayar ya???? *garuk-garuk kepala!!

Tapi ada kemudahan yang diberikan rekanan, saya diminta membayar 50 juta dan kemudian sisanya sebesar 50 juta bisa dicicil sesuai dengan kemampuan saya. Bingung saya mau ambil atau tidak, karena ada beberapa pertimbangan dalam pengambilan keputusan ini, pertimbangan yang mendukung antara lain : panasnya kota Kupang, sehingga kalau berpergian dengan istri dan anak, saya merasa kasihan dengan anak saya, masih kecil tapi dia harus berpanas-panas ria di dalam mobil katana dinas.Alasan yang kedua untuk tujuan menabung, meskipun salah sebenarnya kalau mau menabung di kendaraan, apalagi Nissan Terrano yang notabene termasuk kendaraan yang haus bensin. Alasan mendukung yang ketiga adalah untuk kepuasan diri, jujur aja nih ya, dari dulu saya suka naik motor (motor saya dl Yamaha Crypton) di belakang mobil bagus, mimpi saya waktu itu saya ingin suatu saat nanti saya bisa memiliki mobil bagus yang saya idam-idamkan.
Selain alasan mendukung dibelinya terry itu, ada juga alasan yang memberatkan saya dalam mengambil mobil itu, alasan pertama yaitu karena perasaan tidak enak terhadap para senior yang ada di sekitar perumahan, yang kedua karena ada semacam permainan yang sepertinya sudah disetting oleh rekanan bisnis saya, entah untuk maksud apa dia seperti itu, dan yang ketiga adalah karena faktor bensin yang lumayan boros.
Hhmmmmm.....gimana ya baiknya? karena dengan memiliki kendaraan pribadi, bertambah juga pengeluaran..

Tapi sepertinya.... YA, MOBIL ITU SAYA AMBIL!!!!!!! HAHAHAHAHA.......................... 

Rabu, 25 Januari 2012

Orang yang "Berkelebihan"

Seturut ilmu yang saya dapat, ada empat pilar yang bisa membuat orang menjadi "berkelebihan", kelebihan ini dalam arti materi! jujur, yang dua saya lupa, tapi yang dua lagi saya ingat betul, dua di antara tersebut antara lain:

1. Menjadi Owner Business
menjadi pemilik bisnis atau wirausaha atau pengusaha memang susah-susah gampang, kalau diperhitungkan dengan baik, bisnis pasti akan membawa keuntungan bagi si pemilik usaha, tapi kalau tidak diperhitungkan dengan baik maka ya tidak menutup kemungkinan akan merugikan. tidak jarang pengusaha menutup usahanya karena kerugian, dan tidak hanya rugi, ternyata si pengusaha tersebut masih harus membayar hutang yang telah dipinjamnya. kuncinya mulai dari perencanaan bisnis yang baik, pengelolaan dan penempatan karyawan yang tepat pada posisi yang tepat pula.

2. Menjadi Investor
menjadi investor dapat dilakukan pada dua bidang. yang pertama pada bidang keuangan dan yang kedua pada bidang non keuangan. pada bidang keuangan yaitu jika investor tersebut meninvestasikan dananya pada perusahaan yang menjual saham, obligasi, dll. sedangkan investasi pada bidang non keuangan adalah investor yang menginvestasikan dananya pada bidang-bidang seperti properti, tanah, kendaraan, barang-barang antik,dll. Keduanya sama-sama menguntungkan dan sama-sama memiliki resiko. Investasi pada bidang keuangan rawan jika perusahaan tempat dimana kita berinvestasi tersebut mengalami collaps, maka akan menurunlah nilai saham kita, atau bahkan bisa rugi. Namun, jika nilai harga saham kita naik maka sudah pasti keuntungan mengalir deras masuk ke saku kita. Investasi pada bidang non keuangan lebih sedikit memberikan keuntungan, namun relatif lebih aman, bahayanya jika apabila properti kita tersebut mengalami kebakaran, atau barang-barang antik koleksi kita tersebut dicuri pencuri, maka lenyaplah seluruh investasi kita. Maka ada baiknya jika memiliki investasi non keuangan sebaiknya diasuransikan, supaya jika terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, maka kita dapat mengajukan claim kepada pihak asuransi. setidaknya kita tidak rugi-rugi amatlah...hehe

Pilihannya terserah anda, mau jadi pengusaha atau jadi investor... Selamat menjadi orang "berkelebihan". GBU